Demam Medioker

Oke, judul kali ini mungkin sedikit aneh. Medioker? Apaan tuh? Pokoknya artinya kurang lebih : biasa saja ,so-so, bahkan bisa juga di refer menjadi kurang baik.

Jadi ceritanya, gue udah 1 semester lebih nih, masuk di jurusan yang gue impikan.  Nah, ditempat gue nih, bisa dibilang temen-temen (orang-orangnya) banyak banget yang pinter-pinter, + rajin-rajin. Bahkan gue sampe ngerasa, kok ini orang-orang kayaknya pada gak ada matinya, banyak yang aktif organisasi juga, tapi akademiknya juga tokcer.

Udah gitu, temen- temen gue ini, rata-rata (dari sudut pandang gue) motivasinya buat ngejar nilai dan akademik, tinggiiii (okeh lebay) banget. Ada temen gue yang kalo di ujian salah dikiiit aja, dia bisa stres. Tapi efeknya? Gila, belajarnya dia jadi tambah rajin. Atau ada juga yang ujian masih jauh hari, tapi dia udah prepare dari seminggu sebelumnya. Kalo nggak gitu, dia panik sendiri. Nilainya? Jangan tanya gue, BAGUS!

Dunia yang terlihat seperti ini kemudian menyisakan masalah bagi gue. Kok gue rasa-rasanya jadi salah satu orang yang paling males + santai + gak pinter (gue gak bego kok :p ) di tempat gue. IP gue semester kemaren padahal anjlok, tapi kegilaan gue buat belajar gak meningkat sedrastis temen-temen gue. Padahal IP gue lebih jelek -___- Gue gak bisa ngerjain soal ujian, tetep senyum-senyum, padahal yang lain lagi bahas soal. God! Gue gak tau, yang salah itu diri gue yang terlalu santai, atau dunia gue yang serba cepat berputar?

Emang sih, background gue bukan juara kelas. Pas SMA, gue bukan orang yang tiap tahun juara kelas, ataupun ranking 3 besar. Bahkan 2 tahun pertama ranking gue bisa dikata ada di dasar kelas. Di sekolah gue remedial ujian itu biasa. Dan Remedial ujian biologi, merupakan kebiasaan gue tiap musim ujian. Gue biasa dapet nilai jelek. Yang penting prinsip gue dan temen-temen gue di SMA cuma jujur. Belajar buat belajar, bukan buat gengsi ranking atau apa.

Kalau ditarik ke SMP, gue ranking 3 besar sih. Sempet ikut OSN malah. Tapi gue inget-inget, dari dulu gue emang gak pernah rajin belajar. Kayaknya mengalir aja ya materi pelajaran. Haha.

Sebenernya ya, gue ngerasa diri gue gak bego-bego amat. DI SMP, gue rangking 3 besar terus, meski gak pernah jadi juara kelas. Sempet ikut OSN juga malah di Surabaya. Di SMA, meski ranking gue rada di dasar laut, tapi gue masih ikutan lomba-lomba kayak debat atau olim kimia.

Cuma, the Real Problem yang lagi gue hadapi (ini kok bahasa campur-campur) adalah KENAPA GUE GAK BISA RAJIN BELAJAR KAYAK TEMEN-TEMEN GUE?  Okelah, pendidikan gue di SMA telah mengubah pandangan hidup gue,bahwa nilai bukan segalanya, sehingga gue bisa menghadapi semua hasil yang gue terima dengan lapang dada. Tapi, ya tapi, meski sisi baiknya-gue jadi gak gampang down kalo dapet nilai jelek, karena udah biasa jatuh. Sisi lainnya, gue juga jadi susah termotivasi untuk bangkit. Ngerti gak maksud gue?

Temen-temen gue yang kebanyakan juara kelas, begitu dapet nilai jelek,mereka kadang shock. Tapi, karena shocknya itu, kemudian mereka jadi move on, dan jadi lebih Gila belajar lagi.

Sementara gue? Gue gak gampang down kalo dapet nilai jelek. Tapi, kadang itu sekaligus juga bikin gue gak termotivasi untuk naik ke atas, karena gue tetep santai di titik itu.

Faktor apa ya yang bisa bikin gue termotivasi?

Dibilang gak ada tujuan, gue ada kok. Gak ada mimpi di bidang ini? Gue ada kok. Gak passion / Gak Suka sama ilmunya? Gue suka kok. Bahkan gue pengen banget bisa lanjut sampai S-3. Gak ada kemampuan? Gue ngerasa kalo gue punya kok. Bahkan kadang gue masih bisa jelasin materi kuliah ke temen gue.

Jadi Apa yang salah dengan diri gue?

Mungkin ada yang punya ide? Kalo nggak, bisa-bisa nasib gue kayak klub bola medioker. Dari dulu sampe sekarang adanya di papan tengaaah aja, malah kadang di zona degradasi -__- Dan itu bukan hal yang gue pengenin, terperangkap di zona medioker.

Salam,

*Ini murni refleksi diri ya, dari sudut pandang sendiri juga. Bukan buat menyinggung orang lain dll. 🙂

Advertisements

Masuk PTN Berdasarkan Nilai UN?

Yak, kemarin saya mendengar dari berita tentang kebijakan yang cukup menggelitik oleh Kemendikbud. Sebenarnya ini adalah wacana yang sudah muncul beberapa waktu yang lalu. Ya, ini adalah masalah akan digunakannya UN sebagai penentu seleksi masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso mengatakan bahwa perguruan tinggi negeri sudah setuju menggunakan hasil Ujian Nasional (UN) sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri. “Perguruan tinggi sudah setuju,” kata Djoko ketika ditemui di kantornya, 4 Juni 2012 siang.

Djoko mengatakan kebijakan tersebut mulai diberlakukan tahun depan. Dengan demikian, nantinya perguruan tinggi negeri tak perlu lagi mengadakan tes atau ujian lain untuk menyaring calon mahasiwa. Cukup berpatokan pada nilai UN siswa. “Agar irit, jadi tak perlu ada tes lain,” kata dia.

Djoko mengatakan sistem penggunaan nilai UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri sebenarnya sudah diterapkan tahun ini. “Calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan kan dilihat berdasarkan nilai UN,” katanya.

Adapun daftar calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan itu ditentukan langsung oleh setiap perguruan tinggi negeri. Setiap perguruan tinggi negeri ditetapkan untuk mencari 60 persen calon mahasiswa dari jalur undangan.

Sebenarnya, saya cukup setuju, jika itu dilaksanakan untuk SNMPTN Jalur Undangan, dimana nilai UN dapat dijadikan sebagai pembanding yang berlaku secara nasional. Mengingat nilai rapor di tiap sekolah, yang standar nilainya berbeda, namun, jika juga digunakan untuk jalur tertulis, seperti yang tersirat pada berita di atas, saya sangat keberatan. Mengapa?

1. Soal UN bukanlah soal yang dibuat atau berguna untuk menyeleksi. Soal UN adalah soal yang dibuat untuk mengevaluasi pembelajaran siswa, sejauh mana siswa memahami materi. Berbeda dengan Soal SNMPTN dan Ujian Masuk lainnya, yang tingkat kedalaman materinya, dibuat lebih sulit, sehingga dapat terlihat dengan jelas perbedaan kemampuan antar siswa.

2. Sistem Penilaian, dengan sistem penilaian UN yang masih seperti sekarang, akan sangat banyak nilai yang sama, yang pada akhirnya akan membingungkan dalam seleksi PTN, yang melibatkan ribuan siswa.

3. Standar Penilaian yang kurang terstandarisasi, berbeda dengan SNMPTN yang mempunyai tes potensi akademik, sehingga dapat mencerminkan suatu potensi secara aspek psikologi, UN hanyalah sebuah alat evaluasi belajar.

Jika alasan Pak Dirjen DIKTI ( yang kebetulan pernah menjadi rektor di ITB) itu agar irit, praktis dan tidak memakai tes lain, saya rasa UN harus dibuat dan dirancang ulang, mulai dari standar penilaian, sistem dan corak soal. UN yang sekarang ada, akan sangat tidak valid jika digunakan sebagai alat seleksi. Bukan saya mengatakan tidak mungkin ada ujian tunggal untuk masuk ke PTN. Pemerintah mungkin bisa meniru model SAT (Scholastic Aptitude Test) dimana, siswa tinggal mengikuti ujian yang telah terstandarisasi,dan kemudian membawa skornya untuk mendaftar ke Universitas di seluruh AS.

Intinya, jangan sampai karena niatnya untuk irit, kemudian hasilnya, mahasiswa yang masuk pun Irit kemampuan.

Penerimaan Siswa Baru MAN Insan Cendekia Serpong 2012/2013

Untuk tahun ajaran 2013/2014 , silahkan kunjungi

http://ic.sch.id/penerimaan-peserta-didik-baru-20132014/

dan http://ic.sch.id/penerimaan-siswa-baru/

Penerimaan Peserta Didik Baru dilakukan secara transparan, terukur, dan dapat dipertanggung jawabkan. Syarat mengikuti pendaftaran peserta didik baru sebagai berikut:

  • Pendaftar adalah peserta didik kelas IX MTs/SMP pada TP 2011/2012.
  • Usia pendaftar maksimal 17 tahun per 1 Juli 2012.
  • Pada kelas IX semester 1 tahun pelajaran 2011/2012 merupakan peserta didik terbaik pada madrasah/sekolah berdasarkan pertimbangan dan rekomendasi kepala madrasah/sekolah asal (surat rekomendasi dibuat secara kolektif oleh kepala madrasah/sekolah asal peserta didik) dengan ketentuan: Madrasah/sekolah yang mempunyai rombongan belajar kelas IX sebanyak:
      a. 1-3 kelas, berhak mengirim maksimal 5 orang peserta
      b. 4-5 kelas, berhak mengirim maksimal 7 orang peserta
      c. > 5 kelas, berhak mengirim maksimal 9 orang peserta
  • Khusus pendaftar yg memiliki prestasi di bidang sains pada kompetisi tingkat nasional dan internasional, seperti ikut serta OSN, LKIR, penelitian yang diselenggarakan Kemenag, Kemendikbud, LIPI, BPPT, Kemenristek, dapat diberikan rekomendasi dari Kepala Madrasah/Sekolah asal peserta didik secara individu di luar batasan poin 3 di atas.

Keterangan: rombongan belajar adalah jumlah total kelas IX pada madrasah/sekolah tahun pelajaran 2011/2012 termasuk di dalamnya kelas regular, kelas unggulan, kelas internasional, kelas bilingual, dan kelas akselerasi

Meteri seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia Serpong dan MAN Insan Cendekia Gorontalo meliputi Tes Potensi Belajar (TPB) dan tes akademis untuk mata pelajaran: matematika, IPA, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Alur Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia Tahun 2012 adalah sebagai berikut:

  • Persiapan (1 Januari – 7 Februari 2012)
  • Sosialisasi & Publikasi (13 Januari – 31 Maret 2012)
  • Proses Pendaftaran (1 – 21 April 2012)
  • Seleksi Berkas (1 – 25 April 2012)
  • Pengumuman Peserta Tes (26 April 2012)
  • Pelaksanaan Tes (12 Mei 2012)
  • Pengumuman Kelulusan (28 Mei 2012)
  • Daftar Ulang (1 – 18 Juni 2012)
  • Awal Masuk Madrasah (7 Juli 2012-tentatif)

Kontak :

MAN Insan Cendekia Serpong : Jl. Cendekia BSD Sektor XI, Serpong,
Tangerang, Banten 15310, Telp (021) 7563578 – 80

Informasi dan Pertanyaan lebih lanjut cek di www.ic.sch.id

PTN (2)

Melanjutkan tulisan saya di PTN (1), yang mengutip keluhan seorang teman saya. Biaya kuliah di salah satu PTN yang berkisar 100 jt selama empat tahun dan ia berpendapat kalau itu terlalu mahal. Memang, mungkin mahal itu relatif ya, karena jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, disana biaya perguruan tinggi berkisar 250 jt ke atas untuk 4 tahun masa studi.

Nah, argumentasi saya begini. Itu kan Singapura, yang pendapatan per kapitanya berkisar US$42,000 lebih. Sedangkan Indonesia, dengan biaya 100 juta saja, rasionya dengan pendapatan per kapita sudah mencapai 3 – 4x. Apa artinya? Artinya, kesenjangan pendapatan dalam mengakses pendidikan tinggi akan semakin besar. Masyarakat dengan pendapatan rata-rata saja akan sulit membiayai pendidikannya. Apalagi, pendapatan per kapita itu kan, pendapatan per tahun. Berarti, kalau studi 4 tahun, dan tanpa subsidi, seseorang dengan pendapatan rata-rata akan menghabiskan seluruh pendapatannya selama 4 tahun hanya untuk membiayai pendidikan tingginya.

Jika kita membandingkan dengan Malaysia, untuk biaya mahasiswa internasional misalnya, universitas negeri di Malaysia menawarkan program Undergraduate (Bachelor) hanya dengan biaya berkisar 70 – 100 juta (4 tahun masa studi). Tentu, untuk kalangan bumiputera mereka sendiri, biaya ini jauh lebih murah. Kalau dibagi dengan rasio biaya pendidikan/pendapatan per kapita,  rasio Malaysia hanya sekitar 1-1,5x ,itu pun dengan patokan biaya mahasiswa internasional.

Untuk memperkuat argumentasi saya, berikut saya lampirkan beberapa data dan rasio biaya pendidikan di sejumlah negara.

Negara Biaya seluruh studi (US$) Pendapatan per Kapita (US$) Rasio Biaya Studi/Pendapatan per Kapita
Indonesia 9,074 2,858 3,2
Malaysia 6,000 – 10,000 7,546 0,8 – 1,3
Singapura 22,400 – 35,266 42,653 0,5 – 0,8
Amerika Serikat 100,000 – 150,000 46,381 2,2 – 3,2
Inggris 15,000 – 20,000 35,720 0.4 – 0.6
Jepang 32,000 – 35,000 42,325 0.7 – 0.9
Masa Studi 4 Tahun, Di luar Jurusan Kedokteran, Universitas Negeri di masing – masing negara. Indonesia, menggunakan batas atas rata – rata 3 PTN (ITB,UI,UGM).

Bisa kita lihat pada tabel diatas, rasio Indonesia termasuk paling tinggi dan hanya dapat dibandingkan dengan AS. Itupun hanya menyamai pada batas atasnya. Sedangkan negara lain rata – rata memiliki rasio sekitar 1, bahkan Inggris hanya sekitar 0,4 – 0,6.

Hmm, jadi kira – kira begitu hasil analisis yang saya lakukan. Saya tidak tahu, ketimpangan tersebut apakah disebabkan oleh biaya pendidikannya yang memang mahal, atau pendapatan per kapita Indonesia yang terlalu kecil. Meski Begitu, saya percaya bahwa pemerintah kita, melalui elemen-elemennya seperti Kemendiknas, sudah memiliki berbagai program dalam menangani persoalan biaya, yang mungkin dihadapi masyarakat dalam mengakses Pendidikan Tinggi di Universitas. Sejumlah program itu, diantaranya beasiswa BIDIK MISI, juga beasiswa-beasiswa yang digulirkan di PTN masing-masing (ITB untuk semua, dll.) harus terus kita dukung dan awasi bersama. Sehingga pelaksanaannya akan semakin baik dan menjangkau semakin banyak masyarakat

Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi, bahwa Biaya merupakan salah satu pertimbangan yang krusial dalam memilih Pendidikan Tinggi, yang sangat terkait dengan masa depan seseorang, keluarga bahkan Bangsa dan Negara.

Oke, saya pikir cukup untuk kali ini, sampai jumpa di posting berikutnya!

Moving Class, gimana ya?

Sudah seminggu lebih saya kembali belajar di sekolah tercinta MAN Insan Cendekia Serpong. Sebagai ‘anak’ kelas XII, saya ikut menjadi panitia PTS (kalau di sekolah lain MOS), membina adik – adik kelas yang baru menjadi “freshmen” di IC ini. But, well… di tengah kesibukan menjadi panitia itu, saya juga sibuk menyesuaikan diri dalam bidang akademis.

Menyesuaikan diri? Terdengar aneh bukan? Mengingat saya yang sudah ada di kelas XII, seharusnya saya sudah mengerti seluk – beluk sistem pembelajaran dong? Yaa, maklum saja, tahun ini IC menerapkan sistem belajar baru yang disebut “Moving Class”. Nama kerennya “Subject Method Based Class” *gak penting. Perubahan ini -menurut guru saya- merupakan yang pertama kali setelah IC berdiri selama 14 tahun.

Jadi bagaimana rasanya? ….. Melelahkan!!! But Honestly, saya sangat setuju degan penerapan sistem ini. Karena saya melihat, dengan sistem ini, banyak guru mata pelajaran yang lebih bersemangat mengajar, serta mempunyai lebih banyak “ruang” untuk menerapkan berbagai metode belajar -bukan hanya konvensional- . Tentu saja, pada akhirnya, ini akan membawa pengaruh baik pada siswa sendiri, karena akan semakin aktif, dan pembelajaran dapat menyentuh berbagai aspek, tidak hanya kognitif.

Manfaat lain Moving Class ? Siswa akan lebih segar, karena harus senantiasa dinamis mengikuti kelas yang berubah – ubah (FYI,banyak anak IC males olahraga 🙂 ), dan waktu belajar menjadi efisien, karena saat siswa tiba di kelas, guru sudah menunggu 🙂 Lebih jauh lagi, saya pikir, sistem ini dapat mempersiapkan para siswa untuk menghadapi cara belajar – mengajar saat kuliah nanti.

Namun, karena penerapannya terbilang baru di sekolah saya, fasilitas belum semuanya siap. Loker untuk tas dan buku belum ada -sedang dipesan katanya- , sehingga kami -para siswa- merasa lelah membawa tas kami yang berisi buku keliling gedung pendidikan setiap harinya. Bagi saya pribadi, ini masih ditambah dengan tidak adanya waktu tidur di kelas 😦 Juga, fasilitas untuk perizinan Laptop yang belum bisa kami bawa ke sekolah. Padahal saya yakin, Laptop sangat “matching” dengan sistem pembelajaran yang sekarang. Apalagi nanti, setelah sistem SKS diterapkan. Wah, mirip dengan mahasiswa – mahasiswa. Haha…..

Saya bermimpi bisa mem-posting dari pinggir lapangan, duduk di bawah pohon yang rindang. Sambil ditemani oleh kudapan pada waktu istirahat sekolah. Saya bermimpi dapat berdiskusi dengan teman – teman sambil browsing Internet di depan Ruang OSIS. Saya bermimpi dapat mengerjakan tugas sambil bersantai di serambi Masjid. Ah! Mungkin adik kelas saya nanti yang akan merasakannya….

Gambar dari http://www.wix.com

Upin dan Ipin, Satu Lagi Kecerdikan Malaysia

Waktu liburan kemarin banyak saya habiskan untuk menonton TV. Berbagai channel TV saya arungi, mulai dari stasiun TV nasional seperti hingga stasiun TV kabel seperti CNN, AXN dll. Kebetulan, saat menonton saya ditemani adik saya yang masih duduk di bangku SD. Otomatis, saya harus selalu berbagi channel dengannya. Dan channel kesukaannya adalah…. Disney Channel.

Sepintas, tidak ada yang aneh. Kartun yang ada di Disney channel yaa, memang “trademark” nya mereka, seperti Winnie the Pooh atau Mickey Mouse. Tak Berapa lama, saya terkejut… Mengapa?? Karena ada kartun Melayu yang diputar di situ. Well, yes, they’re Upin and Ipin. Selama ini saya pikir, Upin dan Ipin hanya populer di Indonesia karena faktor “kedekatan” budaya dan juga “serumpun”nya kita dengan Malaysia. Ternyata lebih dari itu….

Kita bisa berasumsi kalau Upin dan Ipin ditayangkan oleh channel seperti Disney, tentu berarti banyak sekali orang yang menyukainya, minimal, karena yang saya tonton itu Disney Channel Asia, yang wilayah siarannya mencakup negara – negara Asia seperti Vietnam, Hongkong dll. Sementara , saat kemudian saya berusaha mencari kartun sejenis yang merupakan produk Indonesia asli, saya hanya menemukan “Si Kabayan” yang bahkan hanya sempat tayang di TV swasta sebentar saja sebelum dikembalikan lagi ke TVRI. Sungguh sayang. –Mungkin si Kabayan terlalu monoton, karena ceritanya hanya diisi oleh nyanyian daerah saja–

Memang harus diakui, kualitas Upin dan Ipin memang lebih bagus, terutama pada jalan ceritanya, yang dapat menyelipkan pesan moral tanpa terlalu mencolok. Cocok sekali untuk anak – anak. — Dan jauh lebih baik daripada acara-acara yang diputar oleh stasiun TV nasional, yang hanya memutar sinetron dan film yang tidak mendidik. –

Dan saya *walau saya bangga dengan Indonesia, akhirnya saya mengakui keunggulan Malaysia atas negara kita. Kita hanya bisa mengejek Proton -merek mobil Malaysia- dengan label “produk murah, tidak berkualitas” atau “cuma labelnya aja Malaysia, yang buat kan orang lain” .Perlu diingat, meski belum terlalu populer dan kalah dengan merek Jepang, tetapi mereka telah mampu menembus pasar Eropa yang terkenal akan standar kualitasnya yang tinggi. Sementara kita berani mengejek mereka padahal hanya menjadi “tempat pabrik” bagi perusahaan – perusahaan mobil Jepang.

Belum lagi gaung Malaysia dengan “Visit Malaysia” nya yang jauh lebih baik daripada “Visit Indonesia Year”. Bayangkan saja, saat Malaysia mempromosikan Visit Malaysia – nya, mereka mampu menampakkan banner iklannya di pertandingan2 EPL (Premier League). ~_~

Tampaknya kita harus belajar kepada Malaysia, terutama soal bagaimana menjajakan dagangannya. (Marketing)

Dan Buat anda yang mencari tontonan bermoral untuk anak – anak, nikmatilah satu lagi produk dari Malaysia, Upin dan Ipin. Selamat Menonton!

Ini Masalah Tanggung Jawab.. hehe

Dulu…. saat pertama kali saya mendengar quote ” Seiring dengan kekuatan yang besar.. maka datang pula tanggung jawab yang besar” (di film apa ya? Spiderman kali)….. saya pikir itu hanya buat si spidermannya aja….. hihi… Iyalah… bagi saya kan… masa iya… kata2 di film itu nyata… wong filmnya aja.. fiksi – fiksi hollywood gitu….

Padahal ternyata.. itu karena saya yang bego aja… belum ngerti…. Setelah otak saya jalan dan bisa mikir..(dulu gak bisa.. hehe) saya baru menyadari kalo hal itu benar…

Kalo kita ahli akan suatu hal (atau dianggap ahli 🙂 ) pasti akan ada orang yang bertanya dan minta bantuan…. padahal kita kan harus tanggung jawab sama yang kita sampaikan..

Para Pemimpin ternyata juga gitu…semakin ke atas semakin kena tuduh kan… padahal mungkin bawahannya yang korup… tapi menterinya juga dipenjara deh…. gara2 sembarangan tanda tanag mungkin…(hihi,.. tanda tangan aja jadi biang kerok lho!)

Saya! Masuk Insan Cendekia.. dikasih beasiswa sama pemerintah….. beuh….. tiap ceramah adaaa tuh tentang tanggung jawab… *emang kurang kali* “kalian tuh dibiayai oleh rakyat… dst…”

Sampai suatu saat di kelas……

Ada beberapa orang yang sedang tidur… padahal… Guru sedang menerangkan…. hihi….*penyakit kalo merasa pinter* .. ya.. langsung saja penerangan (senter? hehe)  itu berbelok kembali ke masalah beasiswa….

” Bahkan negara juga membiayai kalian untuk tidur…. Bermiliar – miliar rupiah negara keluarkan sebagai biaya untuk menidurkan kalian”

Dan mereka pun bangun satu per satu…..

Gambar dari : http://johnehrenfeld.com

Pengumuman Siswa Baru MAN Insan Cendekia Serpong 2009/2010

Untuk Pengumuman Siswa Baru thn ajaran 2010/2011 klik disini

Haha.. akhirnya datang juga!!!

Nih nama – nama yang lulus dan berhak bersekolah di MAN Insan Cendekia Serpong……

Lampiran SK lulus IC Serpong

Selamat ya!!! Sampai jumpa di IC , buat yang gak lolos, mungkin bukan rezekinya……. keep fight!!

Sistem Pendidikan Apa sih Yang Baik? (Sebuah Kritik)

kutubukuSebagai seorang murid….. yang masih belia……. 🙂 …. Kadang gue bingung …. Karena semakin banyak sekolah yang membuat kurikulum – kurikulum tambahan ….. atau semacamnya……. Meski gue sadar.. gue juga murid yang sekolah di sekolah macam itu…. yang make kurikulum ++ …tambahan pelajaran agama.. leadership… dll. Bahkan di sekolah negeri yang unggulan pun sudah banyak ditemui “kelas SBI” atau “RSBI” ….. termasuk di sekolah gue..”MBI” ( Madrasah Bertaraf Internasional)

Yah.. meskipun gue bisa merasakan manfaat dari pengembangan kurikulum atau apalah namanya.. dimana terdapat nilai – nilai life skill yang dimasukkan ke dalamnya (di sekolah gue) .. But, gue merasa kurang sreg dengan kemunculan sekolah – sekolah yang terlalu mementingkan prestasi akademis dan mata pelajaran MIPA dengan cara mengabaikan pelajaran – pelajaran non – MIPA(diberikan waktu yang sedikit sekali, 1-2 jam pelajaran saja seminggu)…

Sekolah – sekolah ini… mendidik anak – anaknya dengan “menjejalkan” ilmu – ilmu MIPA (meski mereka bisa mengikuti, karena rata – rata peraih medali pada ajang Olimpiade sains seperti OSN dan IJSO)…. Tapi sistem seperti ini berkesan bahwa mereka hanya mementingkan nilai – nilai dan prestasi belaka…. Mereka terkesan seperti robot .. yang dijadikan tambang emas …sehingga nama sekolah mereka pun ikut populer….

Memang mereka berhasil meraih medali kembali saat SMA… tapi.. apakah seumur hidupnya mereka hanya akan belajar di dalam kelas saja? Apakah hidup dapat berjalan mulus hanya mengandalkan IQ saja?

Berdasarkan riset 80% kehidupan kita lebih ditentukan oleh EQ dibandingkan IQ .. Dan sudah banyak terbukti bahwa pemilik IQ tinggi tanpa diimbangi dengan kemampuan relasi sosial yang baik (terkait dengan EQ) justru tidak menikmati hidup yang lebih baik dibanding orang yang ber IQ sedang2 saja dengan EQ yang cukup tinggi…. Seringkali terjadi bahwa mahasiswa dengan IP tinggi,kariernya nanti biasa – biasa saja atau bahkan kalah dibandingkan mahasiswa biasa – biasa saja tetapi memiliki adaptasi yang baik di lingkungannya….

Maka…….

Indonesia NGGAK BUTUH ORANG YANG HANYA PUNYA TEORI dan CERDAS! Indonesia BUTUH orang yang CERDAS,NAMUN LUHUR BUDINYA SERTA APLIKATIF!!!!

Sekarang.. dengarlah orang – orang!!! Sadarlah!! Para Anak – anak yang terbius oleh olimpiade….. teruskan perjuanganmu.. tapi jangan jadikan olimpiade sebagai berhala….. tujuan pendidikan yang utama adalah untuk kehidupan itu sendiri……

Untuk penyelenggara sekolah – sekolah semacam itu…. Evaluasi kembali!!! Jangan jadikan anak – anak Indonesia orang yang text-book minded .. tapi jadikan anak – anak itu orang yang kreatif…. Menjadi cendekiawan yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan sosialnya…. Bukan orang – orang yang hanya mampu meneliti sendiri…….. mengurung dirinya sendiri….!!

Dengan begitu .. generasi selanjutnya akan siap meneruskan semangat Indonesia…Hidup Indonesia!!

Sekolah Berasrama, Perlukah?

Insan CendekiaSekarang jaman sudah berubah,, dulu media informasi dan teknologi gak terelalu pesat lajunya,, dan info info negatif masih bisa di blok,, layaknya pemerintah orde baru menutup mulut lawan – lawan politiknya. tapi sayangnya,,  sekarang udah gak bisa gitu lagi,, udah pemandangan umum kalo media informasi seperti televisi adalah media di mana anak anak menerima info – info negatif,,,,

Media yang tidak disaring itu sering memancarkan hal – hal yang berbau SARA,,  tidak heran jika para orang tua sangat khawatir terhadap anaknya.. belum lagi pengaruh2 pergaulan yang tidak sehat… budaya geng2-an, merosotnya moral dan hal2 negatif lainnya….

Itulah sebabnya mengapa kemudian banyak orang tua yang mengirim anaknya ke ponpes2 atau boarding school. Boarding school dan ponpes notabene sama – sama sekolah berasrama.. Tujuan didirikan sekolah model ini adalah agar pendidikan – pendidikan terutama yang berkenaan dengan moral dapat lebih terawasi, (apalagi yang orang tuanya sibuk), melatih kemandirian dan menimba pengalaman hidup…….

TApi, apakah perlu,, agar anak bisa mandiri ,, ia harus dimasukkan ke sekolah berasrama? ……….Maybe yes maybe not… karena di sekolah model ini , maka teman akan sangat berpengaruh.. karena individu2 yang “tersedia”  untuk menjadi teman mungkin hanya dari lingkungan itu saja,, (terlepas dari Internet tentunya)

Kemudian, kemandirian…………………. Yang satu ini jelas! Insya Allah anak akan menjadi lebih mandiri, meski hanya beberapa persen… BAgaimanapun hidup tanpa pengawasan orang tua.. meski ada guru asuh.. ia akan lebih jarang memberi perhatian dibandingkan orang tua kita sendiri..

Pengalaman hidup………………… ini juga mungkin akan lebih mengena dibandingkan siswa2 biasa yang bersekolah di sekolah umum….. karena anak2 yang sekolah di sekolah berasrama harus memanage masalahnya sendiri.. karena dibandingkan dengan anak2 biasa yang sekolah si sekolah umum. di mana mungkin orang tuanya bisa mengerti lingkungan… lingkungan berasrama jauh lebih kompleks daripada itu..  tapi jika berhasil melewatinya biasanya mereka lebih mudah berorganisasi… ( bisa dilihat dari sepak terjang alumni – alumni sekolah berasrama seperti MAN Insan Cendekia ataupun SMA Taruna Nusantara… )

Terjaganya Lingkungan moral dan agama…………………………………….. That’s why I got in into Insan Cendekia and still learn there….. (dulu gue pengen masuk salah satu sMA unggulan di Jakarta…. tapi setelah gue ngeliat ada iklan yang melibatkan salah satu cheerleaders SMA unggulan di BAndung.. dengan rok mini dan segala lainnya .. yang menurut gue gak mencerminkan keunggulan sekolah itu….. gue putusin gue harus masuk boarding school)

Dengan lingkungan yang udah di customize, anak akan lebih terjaga dan sekaligus akan terbiasa dengan ritme2 yang ada di sekolah itu, yang tentunya sudah direncanakan sesuai ideologi sekolah…….

Tapi…. jangan sekali kali anak dipaksa untuk masuk sekolah model asrama begini…………….. karena diperlukan kesungguhan dan ketegaran menjalani hari2 atau bulan – bulan pertama di asrama………

Setelah uraian di atas… pada intinya adalah… sekolah berasrama mempunyai efek yang insya Allah bagus… meski perjuangan bagi ke 2 pihak.. anak dan orang tua sama – sama berat…..

Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat bagi anda semua… yang mengalami dilema dalam memili pendidikan anak anda terutama pada jenjang menengah atas……..