Demam Medioker

Oke, judul kali ini mungkin sedikit aneh. Medioker? Apaan tuh? Pokoknya artinya kurang lebih : biasa saja ,so-so, bahkan bisa juga di refer menjadi kurang baik.

Jadi ceritanya, gue udah 1 semester lebih nih, masuk di jurusan yang gue impikan.  Nah, ditempat gue nih, bisa dibilang temen-temen (orang-orangnya) banyak banget yang pinter-pinter, + rajin-rajin. Bahkan gue sampe ngerasa, kok ini orang-orang kayaknya pada gak ada matinya, banyak yang aktif organisasi juga, tapi akademiknya juga tokcer.

Udah gitu, temen- temen gue ini, rata-rata (dari sudut pandang gue) motivasinya buat ngejar nilai dan akademik, tinggiiii (okeh lebay) banget. Ada temen gue yang kalo di ujian salah dikiiit aja, dia bisa stres. Tapi efeknya? Gila, belajarnya dia jadi tambah rajin. Atau ada juga yang ujian masih jauh hari, tapi dia udah prepare dari seminggu sebelumnya. Kalo nggak gitu, dia panik sendiri. Nilainya? Jangan tanya gue, BAGUS!

Dunia yang terlihat seperti ini kemudian menyisakan masalah bagi gue. Kok gue rasa-rasanya jadi salah satu orang yang paling males + santai + gak pinter (gue gak bego kok :p ) di tempat gue. IP gue semester kemaren padahal anjlok, tapi kegilaan gue buat belajar gak meningkat sedrastis temen-temen gue. Padahal IP gue lebih jelek -___- Gue gak bisa ngerjain soal ujian, tetep senyum-senyum, padahal yang lain lagi bahas soal. God! Gue gak tau, yang salah itu diri gue yang terlalu santai, atau dunia gue yang serba cepat berputar?

Emang sih, background gue bukan juara kelas. Pas SMA, gue bukan orang yang tiap tahun juara kelas, ataupun ranking 3 besar. Bahkan 2 tahun pertama ranking gue bisa dikata ada di dasar kelas. Di sekolah gue remedial ujian itu biasa. Dan Remedial ujian biologi, merupakan kebiasaan gue tiap musim ujian. Gue biasa dapet nilai jelek. Yang penting prinsip gue dan temen-temen gue di SMA cuma jujur. Belajar buat belajar, bukan buat gengsi ranking atau apa.

Kalau ditarik ke SMP, gue ranking 3 besar sih. Sempet ikut OSN malah. Tapi gue inget-inget, dari dulu gue emang gak pernah rajin belajar. Kayaknya mengalir aja ya materi pelajaran. Haha.

Sebenernya ya, gue ngerasa diri gue gak bego-bego amat. DI SMP, gue rangking 3 besar terus, meski gak pernah jadi juara kelas. Sempet ikut OSN juga malah di Surabaya. Di SMA, meski ranking gue rada di dasar laut, tapi gue masih ikutan lomba-lomba kayak debat atau olim kimia.

Cuma, the Real Problem yang lagi gue hadapi (ini kok bahasa campur-campur) adalah KENAPA GUE GAK BISA RAJIN BELAJAR KAYAK TEMEN-TEMEN GUE?  Okelah, pendidikan gue di SMA telah mengubah pandangan hidup gue,bahwa nilai bukan segalanya, sehingga gue bisa menghadapi semua hasil yang gue terima dengan lapang dada. Tapi, ya tapi, meski sisi baiknya-gue jadi gak gampang down kalo dapet nilai jelek, karena udah biasa jatuh. Sisi lainnya, gue juga jadi susah termotivasi untuk bangkit. Ngerti gak maksud gue?

Temen-temen gue yang kebanyakan juara kelas, begitu dapet nilai jelek,mereka kadang shock. Tapi, karena shocknya itu, kemudian mereka jadi move on, dan jadi lebih Gila belajar lagi.

Sementara gue? Gue gak gampang down kalo dapet nilai jelek. Tapi, kadang itu sekaligus juga bikin gue gak termotivasi untuk naik ke atas, karena gue tetep santai di titik itu.

Faktor apa ya yang bisa bikin gue termotivasi?

Dibilang gak ada tujuan, gue ada kok. Gak ada mimpi di bidang ini? Gue ada kok. Gak passion / Gak Suka sama ilmunya? Gue suka kok. Bahkan gue pengen banget bisa lanjut sampai S-3. Gak ada kemampuan? Gue ngerasa kalo gue punya kok. Bahkan kadang gue masih bisa jelasin materi kuliah ke temen gue.

Jadi Apa yang salah dengan diri gue?

Mungkin ada yang punya ide? Kalo nggak, bisa-bisa nasib gue kayak klub bola medioker. Dari dulu sampe sekarang adanya di papan tengaaah aja, malah kadang di zona degradasi -__- Dan itu bukan hal yang gue pengenin, terperangkap di zona medioker.

Salam,

*Ini murni refleksi diri ya, dari sudut pandang sendiri juga. Bukan buat menyinggung orang lain dll. 🙂

Advertisements

Ooh, Sudah 2 Tahun toh?

Jujur saja, setelah lulus dari Insan Cendekia, saya agak jarang membeli dan membaca koran. Saya yang biasanya mendapat suguhan 4 koran nasional setiap hari seperti Kompas dan Bisnis Indonesia, tiba – tiba menjadi buta akan hal – hal terbaru yang ada di masyarakat. Maka, saat saya membeli koran Kompas edisi Senin (17/10), reaksi saya yang pertama adalah “Ooh, SBY udah mau 2 tahun toh.. Gak sadar ya?”

Maka, hari  – hari setelahnya, kepala saya dipenuhi dengan berita – berita reshuffle menteri serta rencana aksi turun ke jalan oleh sebagian kelompok mahasiswa. Bosan juga sih, karena kadang saya merasa dibanding baca bagian Politik, mendingan baca bagian ekonomi atau olahraga. Yang konkrit2 gitu.

Banyak Teman dan kakak kelas saya, yang berbicara menggebu – gebu, mengenai Aksi, demo, perubahan atau semacamnya. Apalagi teman dan kakak kelas yang ada di PTN di Depok, wah, pasti lebih semangat dan aktif. Kata teman saya, “Kita kan trade-mark nya Kampus Perubahan.” Maka saya tidak heran kalau mereka cukup sering terlihat di TV 🙂 . Tapi,pada 20 Oktober kemarin,, KM ITB (sebutan untuk BEM di ITB) juga ikut menggelar aksi di depan gedung sate. Sesuatu yang cukup jarang dilakukan oleh mahasiswa ITB. Saya sendiri sampai sekarang tidak terlalu tertarik dengan aksi, demo dan semacamnya. Tetapi, pertanyaannya, sudah sebegitu parahkah persoalan pada pemerintahan kali ini, sampai – sampai KM ITB menggelar aksi? Continue reading

Mahasiswa, lalu Apa?

Sudah kurang lebih dua bulan, saya resmi menjadi seorang Mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Katanya, almamater saya yang baru ini adalah kampus unggulan. Bahkan, dosen – dosen dan kakak – kakak senior pasti berujar, “Dulu, mahasiswa baru ITB itu disambut dengan Spanduk ‘Selamat Datang Putra – Putri Terbaik Bangsa’”. Oke, saya no comment bagian ini. Karena beberapa orang kemudian memplesetkannya menjadi “Putra – Putri Terkaya” -___-“

Ada desas desus umum yang menyatakan “Mahasiswa baru di ITB itu biasanya mukanya masih cerah – cerah. Trus masih euforia. Atribut ITB, kaos ITB. Masih BANGGA karena berhasil lolos seleksi masuk ke ITB”.

Dan saya, tidak mempersalahkan statement di atas (yang saya rasa, benar untuk sebagian besar maba), sampai akhirnya Senin kemarin, saya mengalami kejadian yang memaksa saya untuk merenung.

Saya bertemu seorang International Student dari Libya, yang sedang ikut program Master di ITB. Ia kehilangan tas ranselnya ketika shalat di Mushola Perpustakaan. Kebetulan, beberapa menit sebelumnya, saya juga baru saja menyelesaikan shalat di situ. Akhirnya,saya menemani orang ini, (karena ia belum lancar bahasa Indonesia), menjadi translatornya, ke Pos Satpam dan saya antar pula ke fakultasnya, untuk mendapat bantuan mengenai tasnya tersebut, yang salah satu isinya adalah Paspor dan KITAS. Boleh dibilang respon dari Satpam dan fakultasnya kurang memuaskan.

Terus terang saja, selama menemani beliau ini, saya seperti menanggung malu, karena sedemikian parahnya moral si Pencuri (yang saya yakin orang Indonesia), sampai hati mengambil barang orang yang sedang menunaikan Shalat. Bukan itu saja, Pencurian ini terjadi di lingkungan kampus yang katanya “Unggulan” di Indonesia. Dan, menurut saya, perlakuan yang didapat beliau ini,sebagai International Student dari pihak kampus juga, kurang memuaskan.

Saya akhirnya sadar, Bangga itu gak berarti apa – apa. Ada banyak kekurangan juga kok dalam kampus yang dibanggakan itu.(Tetap Bangga sih, tapi rendah hati juga :p )

Saya pun bertanya – tanya, apa yang sekarang beliau pikirkan tentang Indonesia dan isinya…

Katanya, Mahasiswa itu “Agent of Change” ,  maka saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswa untuk merubah moral Pencuri – pencuri seperti di atas… Karena Mahasiswa bukan hanya status, tapi mengenai apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa