Goodreads.com, Rekomendasi Buku yang Akurat !

Yak, mungkin para pembaca sekalian udah ada yang pernah denger ya, tentang situs yang namanya http://www.goodreads.com ? Saya pribadi, sebenernya udah tau dari dulu, tapi dulu – dulu ga sempet menelisik lebih jauh, sebenernya apa sih fungsinya. Yang saya tahu dahulu, ya di goodreads itu kayak forum pecinta buku, bisa ngerate buku ( 1-5 stars) atau juga ngasih komen-komen atau resensi tentang buku tersebut.

Tapi bukan itu, yang “sampai hati” mendorong saya untuk menulis tentang si goodreads. Yang mendorong saya untuk menulis, ialah karena adanya fitur read shelf. Saya asli, baru tau ada fitur ini, pas kemarin akhirnya daftar jadi user (karena tertarik akan suatu buku). Jadi Read shelf itu, kayak suatu fitur, yang bisa merekomendasikan buku – buku yang mungkin kita tertarik akan membacanya. Syaratnya, minimal kita udah pernah nge-rate 20 buku yang udah pernah kita baca. Nanti, si goodreads ini akan mencari buku – buku yang mirip dengan buku-buku yang telah kita baca atau sukai. Read shelf juga merekomendasikan buku, dari genre favorit yang kita masukkan.

Saya gak tau algoritma atau cara mereka mengompilasi si read shelf itu gimana, tapi, kalau menurut saya sih, hasilnya termasuk akurat, hehe 😀 ,selain ternyata muncul buku – buku yang sudah saya baca,  banyak diantara buku – buku tersebut yang emang waiting list karena menunggu budget saya cukup, hahaha, nasib seorang mahasiswa.

Buku – buku tersebut diantaranya :

1. Selimut Debu – Agustinus Wibowo , (Sama Buku “Garis Batas” nya juga sebenarnya)

2. Common stocks and Uncommon Profits – Philip A. Fisher

3. Padang Bulan – Andrea Hirata

4. Perahu Kertas – Dee

5. Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar – Marina Silvia

Gimana, gimana? Harus beli yang mana dulu yah 😀

Ekonomi Indonesia, Benarkah Tengah Berlari?

Dalam beberapa tahun terakhir ini, ekonomi dunia dilanda ketidakpastian. Dimulai dari Krisis Subprime Mortgage di AS pada 2008 hingga kemudian dilanjutkan krisis di benua Eropa.  Sejak itu pula, banyak pujian – pujian yang dilontarkan lembaga dunia seperti World Bank dan IMF, kepada pemerintah maupun Menkeu saat itu Sri Mulyani Indrawati, atas keberhasilannya mencetak pertumbuhan 6,1% di 2008 dan 4,5% di 2009, di tengah resesi dunia.-sebagian besar negara minus pertumbuhannya-.

Pujian tersebut terus berlanjut hingga sekarang, di tengah krisis eropa. Tapi pertanyaannya, apakah pujian-pujian tersebut pantas diberikan? Atau hanya dilebih-lebihkan? Saya ingin mengajak anda untuk bermain hitung – hitungan ekonomi praktis. Di tahun 2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,1%, dan 2011 naik menjadi 6,5%.  Sedangkan inflasinya berturut-turut 6,96% dan 3,79%.

Secara simpel, prinsip yang ingin dicapai dalam suatu pembangunan yang berkelanjutan adalah, bertumbuh setinggi mungkin, di atas inflasi, yang menggerus nilai daya beli mata uang. Dan apa yang dicapai? Dari 2008 sampai 2011, jika dijumlahkan secara langsung, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 23% (nilai aktual lbh tinggi) sementara inflasi harga-harga jika dijumlahkan sekitar 24%.

Artinya apa? Meski tidak menampilkan angka sebenarnya, namun penjumlahan di atas dapat mendekati dan mencerminkan, bahwa pertumbuhan yang dicapai pemerintah adalah hal yang biasa saja, so-so, bahkan memang HARUS terjadi seiring kenaikan harga barang dan jasa yang terus berputar dalam kegiatan ekonomi.

Bahkan, jika kita lebih teliti lagi,dalam melihat data – data Statistik Inflasi setiap tahun, Inflasi harga bahan makanan biasanya selalu lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. Contoh ekstrimnya misalnya di 2010, saat data inflasi tahunan dari BPS menunjukkan angka 6,96%, maka inflasi harga bahan makanan mencapai 15,64%!  Dan tahun 2012 ini (hingga Juli,berjalan) angka inflasi bahan makanan sejak awal tahun sudah menunjukkan 4,05% dibandingkan Inflasi umum 2,5%.

Interpretasi dari paragraf di atas? Ternyata, saat terjadi kenaikan harga, rakyat jelata kelas bawah akan semakin tercekik dan lebih merasakan dampaknya. Mengapa? Karena, bagi masyarakat berpendapatan rendah, porsi pendapatan mereka sebagian besar dibelanjakan untuk membeli makanan pokok. Bahkan terkadang lebih dari separuh pendapatan. Karena kecilnya pendapatan, dan sulitnya memenuhi kebutuhan pokok inilah, maka terkadang perhatian mereka terhadap pendidikan dan kesehatan anak – anak mereka juga terabaikan.

 Kondisi yang dialami oleh kelas bawah ini berbeda dengan kelas Menengah-Atas, yang porsi pembelanjaan pendapatannya lebih terdiversifikasi, -dikarenakan jumlah uang yang dapat dibelanjakan juga lebih besar, sehingga, kebutuhan pokok dapat dengan mudah dipenuhi-, sehingga leluasa memerhatikan faktor kesejahteraan lainnya seperti pendidikan, kesehatan, sampai hiburan.

 Jelas sekali, bahwa, jika kondisi ini terus berlanjut maka ketimpangan pendapatan antara kelas bawah dengan kelas menengah dan atas semakin besar. Bahkan, bukan tidak mungkin jika justru lebih banyak lagi rakyat Indonesia yang malah jatuh ke kelas bawah. Ini tentu menjadi tantangan bagi Indonesia dalam pembangunan berkelanjutannya.

 Defisit Perdagangan

Masalah lain, yang tampaknya mulai hadir ialah, munculnya defisit perdagangan selama 3 bulan berturut-turut. Bahkan, defisit pada Juni 2012 adalah defisit terbesar dalam 5 tahun terakhir, yaitu mencapai US$1,32 Miliar. Padahal, pada bulan Mei 2012, defisit masih sekitar US$485 juta.

 Munculnya defisit ini, menurut sebagian ekonom dikarenakan turunnya harga komoditas utama yang biasa diekspor Indonesia, seperti Batubara dan barang tambang lainnya. Selain itu, impor minyak juga dituding sebagai salah satu faktor. Namun, bagi saya, ada faktor lain dibalik itu, yaitu masih kurangnya hasil produk manufaktur yang dapat diandalkan sebagai backbone, sehingga Indonesia tidak tergantung kepada harga komoditas dunia, yang kendalinya pun bukan ada di negara ini, dan nilai tambahnya sedikit. Apalagi, dengan adanya perjanjian FTA yang telah diimplementasikan dengan China, yang sempat memicu kontroversi, karena tampaknya kita tidak mempersiapkan hal tersebut secara matang.

 Ekonomi Indonesia, yang dalam tahun-tahun krisis ini dapat terlihat kuat ditopang oleh konsumsi domestik,  tidak akan dapat terbang tinggi saat kondisi ekonomi, karena tersandera oleh daya beli domestik yang terbatas dan kurang adanya produk ekspor yang dapat diandalkan. Jika kita melihat komposisi PDB yang ada misalnya, industri non-migas yang paling signifikan pengaruhnya masih di sektor “Makanan,minuman dan tembakau”, yang sebagian besar memang dikonsumsi secara domestik,  baru kemudian diikuti oleh produksi alat angkutan dan permesinan. Industri berteknologi seperti pupuk dan kimia menyusul, dengan besar hanya 1/3 dari output industri makanan. Padahal, industri ini biasa disebut sebagai industri dasar agar negara dapat melangkah menuju industrialisasi.

 Ini berbeda,misalnya dengan  China,  Malaysia, ataupun Singapura. Mereka dapat tumbuh tinggi, karena dengan kontribusi ekspor yang juga tinggi dalam neraca perdagangannya, yang berarti mereka dapat memanfaatkan baik pihak luar –dengan membeli produk mereka- maupun domestiknya sendiri untuk membantu kegiatan ekonominya. Dan mereka, mengekspor produk-produk yang bernilai tambah tinggi.

 Memang, kita tetap harus mengapresiasi pemerintah yang masih bisa mempertahankan kinerja ekonominya di tengah krisis, terutama melihat statistik 2 tahun terakhir (2012, masih berjalan), yang pertumbuhannya selalu lebih tinggi dari inflasi.

 Namun, juga perlu diingat, tanpa adanya upaya pembenahan yang lebih serius, sepertinya negeri kita akan masuk ke siklus yang itu-itu saja. Pertumbuhan yang tersandera di kisaran 6 %, dan peningkatan statistik yang hanya setara inflasi. Hal ini akan sangat disayangkan, mengingat dalam 10 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami apa yang disebut “bonus demografi” yaitu saat jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding non-produktif, ditambah pula Sumber daya Alam yang memang melimpah.Seharusnya, momen ini dapat dimanfaakan, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh China, untuk berlari. Tanpa berlari, akan sulit bagi Indonesia untuk naik kelas menuju negara industri/maju. Potensi ada,tinggal aksinya.

 Last but not least, yang terpenting ialah, hendaknya pemerintah jangan terlalu terbuai dengan pujian-pujian yang dilontarkan oleh banyak pihak, karena sesungguhnya masih banyak PR yang menanti. Saya tutup tulisan saya kali ini dengan kata-kata yang mencerminkan progress ekonomi Indonesia saat ini. We’re still walking, not running.

Sumber Data (BI, BPS)

Masuk PTN Berdasarkan Nilai UN?

Yak, kemarin saya mendengar dari berita tentang kebijakan yang cukup menggelitik oleh Kemendikbud. Sebenarnya ini adalah wacana yang sudah muncul beberapa waktu yang lalu. Ya, ini adalah masalah akan digunakannya UN sebagai penentu seleksi masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso mengatakan bahwa perguruan tinggi negeri sudah setuju menggunakan hasil Ujian Nasional (UN) sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri. “Perguruan tinggi sudah setuju,” kata Djoko ketika ditemui di kantornya, 4 Juni 2012 siang.

Djoko mengatakan kebijakan tersebut mulai diberlakukan tahun depan. Dengan demikian, nantinya perguruan tinggi negeri tak perlu lagi mengadakan tes atau ujian lain untuk menyaring calon mahasiwa. Cukup berpatokan pada nilai UN siswa. “Agar irit, jadi tak perlu ada tes lain,” kata dia.

Djoko mengatakan sistem penggunaan nilai UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri sebenarnya sudah diterapkan tahun ini. “Calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan kan dilihat berdasarkan nilai UN,” katanya.

Adapun daftar calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan itu ditentukan langsung oleh setiap perguruan tinggi negeri. Setiap perguruan tinggi negeri ditetapkan untuk mencari 60 persen calon mahasiswa dari jalur undangan.

Sebenarnya, saya cukup setuju, jika itu dilaksanakan untuk SNMPTN Jalur Undangan, dimana nilai UN dapat dijadikan sebagai pembanding yang berlaku secara nasional. Mengingat nilai rapor di tiap sekolah, yang standar nilainya berbeda, namun, jika juga digunakan untuk jalur tertulis, seperti yang tersirat pada berita di atas, saya sangat keberatan. Mengapa?

1. Soal UN bukanlah soal yang dibuat atau berguna untuk menyeleksi. Soal UN adalah soal yang dibuat untuk mengevaluasi pembelajaran siswa, sejauh mana siswa memahami materi. Berbeda dengan Soal SNMPTN dan Ujian Masuk lainnya, yang tingkat kedalaman materinya, dibuat lebih sulit, sehingga dapat terlihat dengan jelas perbedaan kemampuan antar siswa.

2. Sistem Penilaian, dengan sistem penilaian UN yang masih seperti sekarang, akan sangat banyak nilai yang sama, yang pada akhirnya akan membingungkan dalam seleksi PTN, yang melibatkan ribuan siswa.

3. Standar Penilaian yang kurang terstandarisasi, berbeda dengan SNMPTN yang mempunyai tes potensi akademik, sehingga dapat mencerminkan suatu potensi secara aspek psikologi, UN hanyalah sebuah alat evaluasi belajar.

Jika alasan Pak Dirjen DIKTI ( yang kebetulan pernah menjadi rektor di ITB) itu agar irit, praktis dan tidak memakai tes lain, saya rasa UN harus dibuat dan dirancang ulang, mulai dari standar penilaian, sistem dan corak soal. UN yang sekarang ada, akan sangat tidak valid jika digunakan sebagai alat seleksi. Bukan saya mengatakan tidak mungkin ada ujian tunggal untuk masuk ke PTN. Pemerintah mungkin bisa meniru model SAT (Scholastic Aptitude Test) dimana, siswa tinggal mengikuti ujian yang telah terstandarisasi,dan kemudian membawa skornya untuk mendaftar ke Universitas di seluruh AS.

Intinya, jangan sampai karena niatnya untuk irit, kemudian hasilnya, mahasiswa yang masuk pun Irit kemampuan.

Penerimaan Siswa Baru MAN Insan Cendekia Serpong 2012/2013

Untuk tahun ajaran 2013/2014 , silahkan kunjungi

http://ic.sch.id/penerimaan-peserta-didik-baru-20132014/

dan http://ic.sch.id/penerimaan-siswa-baru/

Penerimaan Peserta Didik Baru dilakukan secara transparan, terukur, dan dapat dipertanggung jawabkan. Syarat mengikuti pendaftaran peserta didik baru sebagai berikut:

  • Pendaftar adalah peserta didik kelas IX MTs/SMP pada TP 2011/2012.
  • Usia pendaftar maksimal 17 tahun per 1 Juli 2012.
  • Pada kelas IX semester 1 tahun pelajaran 2011/2012 merupakan peserta didik terbaik pada madrasah/sekolah berdasarkan pertimbangan dan rekomendasi kepala madrasah/sekolah asal (surat rekomendasi dibuat secara kolektif oleh kepala madrasah/sekolah asal peserta didik) dengan ketentuan: Madrasah/sekolah yang mempunyai rombongan belajar kelas IX sebanyak:
      a. 1-3 kelas, berhak mengirim maksimal 5 orang peserta
      b. 4-5 kelas, berhak mengirim maksimal 7 orang peserta
      c. > 5 kelas, berhak mengirim maksimal 9 orang peserta
  • Khusus pendaftar yg memiliki prestasi di bidang sains pada kompetisi tingkat nasional dan internasional, seperti ikut serta OSN, LKIR, penelitian yang diselenggarakan Kemenag, Kemendikbud, LIPI, BPPT, Kemenristek, dapat diberikan rekomendasi dari Kepala Madrasah/Sekolah asal peserta didik secara individu di luar batasan poin 3 di atas.

Keterangan: rombongan belajar adalah jumlah total kelas IX pada madrasah/sekolah tahun pelajaran 2011/2012 termasuk di dalamnya kelas regular, kelas unggulan, kelas internasional, kelas bilingual, dan kelas akselerasi

Meteri seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia Serpong dan MAN Insan Cendekia Gorontalo meliputi Tes Potensi Belajar (TPB) dan tes akademis untuk mata pelajaran: matematika, IPA, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Alur Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia Tahun 2012 adalah sebagai berikut:

  • Persiapan (1 Januari – 7 Februari 2012)
  • Sosialisasi & Publikasi (13 Januari – 31 Maret 2012)
  • Proses Pendaftaran (1 – 21 April 2012)
  • Seleksi Berkas (1 – 25 April 2012)
  • Pengumuman Peserta Tes (26 April 2012)
  • Pelaksanaan Tes (12 Mei 2012)
  • Pengumuman Kelulusan (28 Mei 2012)
  • Daftar Ulang (1 – 18 Juni 2012)
  • Awal Masuk Madrasah (7 Juli 2012-tentatif)

Kontak :

MAN Insan Cendekia Serpong : Jl. Cendekia BSD Sektor XI, Serpong,
Tangerang, Banten 15310, Telp (021) 7563578 – 80

Informasi dan Pertanyaan lebih lanjut cek di www.ic.sch.id

2012, Be Better

Yak, halo semua… Setelah agak lama gak nge-post, akhirnya muncul juga posting pertama ditahun ini. Di pertengahan bulan Januari ini, yang nuansa tahun barunya masih terasa, terdapat suasana yang berbeda dalam menyikapi dan merayakannya. Flashback ke tahun 2011 kemarin, bulan – bulan awal di 2011, justru saya berada dalam suasana yang kurang santai, karena libur yang sebentar, masih di Asrama, serta menghadapi persiapan ujian – ujian seperti UN dan SNMPTN Berbeda dengan 2012, dimana status saya sekarang mahasiswa, libur lebih panjang, dan jadwal kegiatan yang lebih bebas.

Di 2012 ini, resolusi saya sederhana saja, Saya ingin mendapat IP semester 2 yang lebih baik dari semester kemarin,sehingga saya bisa masuk jurusan yang saya impikan. Teknik Kimia! Lalu bisa me-manage waktu untuk aktif di Unit kegiatan mahasiswa yang saya ikuti, mengingat di semester ini, saya mulai aktif penuh di Unit2 tersebut. Mudah – mudahan juga Ibadah saya tidak menurun, (tapi susah sih), Semoga Allah melapangkan jalan…. Itu aja sih harapan – harapan saya di 2012 ini, tentu, rencana – rencana yang sifatnya lebih mikro dan detil ada, tapi itu di-list untuk disimpen sendiri aja deh :-p

Salam

Ooh, Sudah 2 Tahun toh?

Jujur saja, setelah lulus dari Insan Cendekia, saya agak jarang membeli dan membaca koran. Saya yang biasanya mendapat suguhan 4 koran nasional setiap hari seperti Kompas dan Bisnis Indonesia, tiba – tiba menjadi buta akan hal – hal terbaru yang ada di masyarakat. Maka, saat saya membeli koran Kompas edisi Senin (17/10), reaksi saya yang pertama adalah “Ooh, SBY udah mau 2 tahun toh.. Gak sadar ya?”

Maka, hari  – hari setelahnya, kepala saya dipenuhi dengan berita – berita reshuffle menteri serta rencana aksi turun ke jalan oleh sebagian kelompok mahasiswa. Bosan juga sih, karena kadang saya merasa dibanding baca bagian Politik, mendingan baca bagian ekonomi atau olahraga. Yang konkrit2 gitu.

Banyak Teman dan kakak kelas saya, yang berbicara menggebu – gebu, mengenai Aksi, demo, perubahan atau semacamnya. Apalagi teman dan kakak kelas yang ada di PTN di Depok, wah, pasti lebih semangat dan aktif. Kata teman saya, “Kita kan trade-mark nya Kampus Perubahan.” Maka saya tidak heran kalau mereka cukup sering terlihat di TV 🙂 . Tapi,pada 20 Oktober kemarin,, KM ITB (sebutan untuk BEM di ITB) juga ikut menggelar aksi di depan gedung sate. Sesuatu yang cukup jarang dilakukan oleh mahasiswa ITB. Saya sendiri sampai sekarang tidak terlalu tertarik dengan aksi, demo dan semacamnya. Tetapi, pertanyaannya, sudah sebegitu parahkah persoalan pada pemerintahan kali ini, sampai – sampai KM ITB menggelar aksi? Continue reading

Mahasiswa, lalu Apa?

Sudah kurang lebih dua bulan, saya resmi menjadi seorang Mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Katanya, almamater saya yang baru ini adalah kampus unggulan. Bahkan, dosen – dosen dan kakak – kakak senior pasti berujar, “Dulu, mahasiswa baru ITB itu disambut dengan Spanduk ‘Selamat Datang Putra – Putri Terbaik Bangsa’”. Oke, saya no comment bagian ini. Karena beberapa orang kemudian memplesetkannya menjadi “Putra – Putri Terkaya” -___-“

Ada desas desus umum yang menyatakan “Mahasiswa baru di ITB itu biasanya mukanya masih cerah – cerah. Trus masih euforia. Atribut ITB, kaos ITB. Masih BANGGA karena berhasil lolos seleksi masuk ke ITB”.

Dan saya, tidak mempersalahkan statement di atas (yang saya rasa, benar untuk sebagian besar maba), sampai akhirnya Senin kemarin, saya mengalami kejadian yang memaksa saya untuk merenung.

Saya bertemu seorang International Student dari Libya, yang sedang ikut program Master di ITB. Ia kehilangan tas ranselnya ketika shalat di Mushola Perpustakaan. Kebetulan, beberapa menit sebelumnya, saya juga baru saja menyelesaikan shalat di situ. Akhirnya,saya menemani orang ini, (karena ia belum lancar bahasa Indonesia), menjadi translatornya, ke Pos Satpam dan saya antar pula ke fakultasnya, untuk mendapat bantuan mengenai tasnya tersebut, yang salah satu isinya adalah Paspor dan KITAS. Boleh dibilang respon dari Satpam dan fakultasnya kurang memuaskan.

Terus terang saja, selama menemani beliau ini, saya seperti menanggung malu, karena sedemikian parahnya moral si Pencuri (yang saya yakin orang Indonesia), sampai hati mengambil barang orang yang sedang menunaikan Shalat. Bukan itu saja, Pencurian ini terjadi di lingkungan kampus yang katanya “Unggulan” di Indonesia. Dan, menurut saya, perlakuan yang didapat beliau ini,sebagai International Student dari pihak kampus juga, kurang memuaskan.

Saya akhirnya sadar, Bangga itu gak berarti apa – apa. Ada banyak kekurangan juga kok dalam kampus yang dibanggakan itu.(Tetap Bangga sih, tapi rendah hati juga :p )

Saya pun bertanya – tanya, apa yang sekarang beliau pikirkan tentang Indonesia dan isinya…

Katanya, Mahasiswa itu “Agent of Change” ,  maka saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswa untuk merubah moral Pencuri – pencuri seperti di atas… Karena Mahasiswa bukan hanya status, tapi mengenai apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa

First Post After…?

Yap, sudah berapa bulan saya tidak nge-post? Sejak 28 Februari tepatnya. So, After almost 5 months, blog ini saya biarkan telantar beserta isinya.. Hiks… #apasih.. Apalagi sejak saya punya Tumblr, wah, mengisi wordpress ini ibarat pekerjaan Berat!

Rencananya dalam minggu – minggu ini, theme-nya akan diubah lagi, agar para pembaca tidak bosan, dan blog ini terasa lebih segar. Tentu, dengan semangat perubahan juga pada tulisan2nya menjadi lebih baik (Doakan yaa). Insya Allah, setelah bulan – bulan lalu yang menyibukkan dan melelahkan, sekarang saya bisa meluangkan waktu menulis dan mengatur Blog ini, sebagai Mahasiswa!

Salam!