Demam Medioker

Oke, judul kali ini mungkin sedikit aneh. Medioker? Apaan tuh? Pokoknya artinya kurang lebih : biasa saja ,so-so, bahkan bisa juga di refer menjadi kurang baik.

Jadi ceritanya, gue udah 1 semester lebih nih, masuk di jurusan yang gue impikan.  Nah, ditempat gue nih, bisa dibilang temen-temen (orang-orangnya) banyak banget yang pinter-pinter, + rajin-rajin. Bahkan gue sampe ngerasa, kok ini orang-orang kayaknya pada gak ada matinya, banyak yang aktif organisasi juga, tapi akademiknya juga tokcer.

Udah gitu, temen- temen gue ini, rata-rata (dari sudut pandang gue) motivasinya buat ngejar nilai dan akademik, tinggiiii (okeh lebay) banget. Ada temen gue yang kalo di ujian salah dikiiit aja, dia bisa stres. Tapi efeknya? Gila, belajarnya dia jadi tambah rajin. Atau ada juga yang ujian masih jauh hari, tapi dia udah prepare dari seminggu sebelumnya. Kalo nggak gitu, dia panik sendiri. Nilainya? Jangan tanya gue, BAGUS!

Dunia yang terlihat seperti ini kemudian menyisakan masalah bagi gue. Kok gue rasa-rasanya jadi salah satu orang yang paling males + santai + gak pinter (gue gak bego kok :p ) di tempat gue. IP gue semester kemaren padahal anjlok, tapi kegilaan gue buat belajar gak meningkat sedrastis temen-temen gue. Padahal IP gue lebih jelek -___- Gue gak bisa ngerjain soal ujian, tetep senyum-senyum, padahal yang lain lagi bahas soal. God! Gue gak tau, yang salah itu diri gue yang terlalu santai, atau dunia gue yang serba cepat berputar?

Emang sih, background gue bukan juara kelas. Pas SMA, gue bukan orang yang tiap tahun juara kelas, ataupun ranking 3 besar. Bahkan 2 tahun pertama ranking gue bisa dikata ada di dasar kelas. Di sekolah gue remedial ujian itu biasa. Dan Remedial ujian biologi, merupakan kebiasaan gue tiap musim ujian. Gue biasa dapet nilai jelek. Yang penting prinsip gue dan temen-temen gue di SMA cuma jujur. Belajar buat belajar, bukan buat gengsi ranking atau apa.

Kalau ditarik ke SMP, gue ranking 3 besar sih. Sempet ikut OSN malah. Tapi gue inget-inget, dari dulu gue emang gak pernah rajin belajar. Kayaknya mengalir aja ya materi pelajaran. Haha.

Sebenernya ya, gue ngerasa diri gue gak bego-bego amat. DI SMP, gue rangking 3 besar terus, meski gak pernah jadi juara kelas. Sempet ikut OSN juga malah di Surabaya. Di SMA, meski ranking gue rada di dasar laut, tapi gue masih ikutan lomba-lomba kayak debat atau olim kimia.

Cuma, the Real Problem yang lagi gue hadapi (ini kok bahasa campur-campur) adalah KENAPA GUE GAK BISA RAJIN BELAJAR KAYAK TEMEN-TEMEN GUE?  Okelah, pendidikan gue di SMA telah mengubah pandangan hidup gue,bahwa nilai bukan segalanya, sehingga gue bisa menghadapi semua hasil yang gue terima dengan lapang dada. Tapi, ya tapi, meski sisi baiknya-gue jadi gak gampang down kalo dapet nilai jelek, karena udah biasa jatuh. Sisi lainnya, gue juga jadi susah termotivasi untuk bangkit. Ngerti gak maksud gue?

Temen-temen gue yang kebanyakan juara kelas, begitu dapet nilai jelek,mereka kadang shock. Tapi, karena shocknya itu, kemudian mereka jadi move on, dan jadi lebih Gila belajar lagi.

Sementara gue? Gue gak gampang down kalo dapet nilai jelek. Tapi, kadang itu sekaligus juga bikin gue gak termotivasi untuk naik ke atas, karena gue tetep santai di titik itu.

Faktor apa ya yang bisa bikin gue termotivasi?

Dibilang gak ada tujuan, gue ada kok. Gak ada mimpi di bidang ini? Gue ada kok. Gak passion / Gak Suka sama ilmunya? Gue suka kok. Bahkan gue pengen banget bisa lanjut sampai S-3. Gak ada kemampuan? Gue ngerasa kalo gue punya kok. Bahkan kadang gue masih bisa jelasin materi kuliah ke temen gue.

Jadi Apa yang salah dengan diri gue?

Mungkin ada yang punya ide? Kalo nggak, bisa-bisa nasib gue kayak klub bola medioker. Dari dulu sampe sekarang adanya di papan tengaaah aja, malah kadang di zona degradasi -__- Dan itu bukan hal yang gue pengenin, terperangkap di zona medioker.

Salam,

*Ini murni refleksi diri ya, dari sudut pandang sendiri juga. Bukan buat menyinggung orang lain dll. 🙂

Advertisements

Masuk PTN Berdasarkan Nilai UN?

Yak, kemarin saya mendengar dari berita tentang kebijakan yang cukup menggelitik oleh Kemendikbud. Sebenarnya ini adalah wacana yang sudah muncul beberapa waktu yang lalu. Ya, ini adalah masalah akan digunakannya UN sebagai penentu seleksi masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso mengatakan bahwa perguruan tinggi negeri sudah setuju menggunakan hasil Ujian Nasional (UN) sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri. “Perguruan tinggi sudah setuju,” kata Djoko ketika ditemui di kantornya, 4 Juni 2012 siang.

Djoko mengatakan kebijakan tersebut mulai diberlakukan tahun depan. Dengan demikian, nantinya perguruan tinggi negeri tak perlu lagi mengadakan tes atau ujian lain untuk menyaring calon mahasiwa. Cukup berpatokan pada nilai UN siswa. “Agar irit, jadi tak perlu ada tes lain,” kata dia.

Djoko mengatakan sistem penggunaan nilai UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri sebenarnya sudah diterapkan tahun ini. “Calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan kan dilihat berdasarkan nilai UN,” katanya.

Adapun daftar calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan itu ditentukan langsung oleh setiap perguruan tinggi negeri. Setiap perguruan tinggi negeri ditetapkan untuk mencari 60 persen calon mahasiswa dari jalur undangan.

Sebenarnya, saya cukup setuju, jika itu dilaksanakan untuk SNMPTN Jalur Undangan, dimana nilai UN dapat dijadikan sebagai pembanding yang berlaku secara nasional. Mengingat nilai rapor di tiap sekolah, yang standar nilainya berbeda, namun, jika juga digunakan untuk jalur tertulis, seperti yang tersirat pada berita di atas, saya sangat keberatan. Mengapa?

1. Soal UN bukanlah soal yang dibuat atau berguna untuk menyeleksi. Soal UN adalah soal yang dibuat untuk mengevaluasi pembelajaran siswa, sejauh mana siswa memahami materi. Berbeda dengan Soal SNMPTN dan Ujian Masuk lainnya, yang tingkat kedalaman materinya, dibuat lebih sulit, sehingga dapat terlihat dengan jelas perbedaan kemampuan antar siswa.

2. Sistem Penilaian, dengan sistem penilaian UN yang masih seperti sekarang, akan sangat banyak nilai yang sama, yang pada akhirnya akan membingungkan dalam seleksi PTN, yang melibatkan ribuan siswa.

3. Standar Penilaian yang kurang terstandarisasi, berbeda dengan SNMPTN yang mempunyai tes potensi akademik, sehingga dapat mencerminkan suatu potensi secara aspek psikologi, UN hanyalah sebuah alat evaluasi belajar.

Jika alasan Pak Dirjen DIKTI ( yang kebetulan pernah menjadi rektor di ITB) itu agar irit, praktis dan tidak memakai tes lain, saya rasa UN harus dibuat dan dirancang ulang, mulai dari standar penilaian, sistem dan corak soal. UN yang sekarang ada, akan sangat tidak valid jika digunakan sebagai alat seleksi. Bukan saya mengatakan tidak mungkin ada ujian tunggal untuk masuk ke PTN. Pemerintah mungkin bisa meniru model SAT (Scholastic Aptitude Test) dimana, siswa tinggal mengikuti ujian yang telah terstandarisasi,dan kemudian membawa skornya untuk mendaftar ke Universitas di seluruh AS.

Intinya, jangan sampai karena niatnya untuk irit, kemudian hasilnya, mahasiswa yang masuk pun Irit kemampuan.

Mahasiswa, lalu Apa?

Sudah kurang lebih dua bulan, saya resmi menjadi seorang Mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Katanya, almamater saya yang baru ini adalah kampus unggulan. Bahkan, dosen – dosen dan kakak – kakak senior pasti berujar, “Dulu, mahasiswa baru ITB itu disambut dengan Spanduk ‘Selamat Datang Putra – Putri Terbaik Bangsa’”. Oke, saya no comment bagian ini. Karena beberapa orang kemudian memplesetkannya menjadi “Putra – Putri Terkaya” -___-“

Ada desas desus umum yang menyatakan “Mahasiswa baru di ITB itu biasanya mukanya masih cerah – cerah. Trus masih euforia. Atribut ITB, kaos ITB. Masih BANGGA karena berhasil lolos seleksi masuk ke ITB”.

Dan saya, tidak mempersalahkan statement di atas (yang saya rasa, benar untuk sebagian besar maba), sampai akhirnya Senin kemarin, saya mengalami kejadian yang memaksa saya untuk merenung.

Saya bertemu seorang International Student dari Libya, yang sedang ikut program Master di ITB. Ia kehilangan tas ranselnya ketika shalat di Mushola Perpustakaan. Kebetulan, beberapa menit sebelumnya, saya juga baru saja menyelesaikan shalat di situ. Akhirnya,saya menemani orang ini, (karena ia belum lancar bahasa Indonesia), menjadi translatornya, ke Pos Satpam dan saya antar pula ke fakultasnya, untuk mendapat bantuan mengenai tasnya tersebut, yang salah satu isinya adalah Paspor dan KITAS. Boleh dibilang respon dari Satpam dan fakultasnya kurang memuaskan.

Terus terang saja, selama menemani beliau ini, saya seperti menanggung malu, karena sedemikian parahnya moral si Pencuri (yang saya yakin orang Indonesia), sampai hati mengambil barang orang yang sedang menunaikan Shalat. Bukan itu saja, Pencurian ini terjadi di lingkungan kampus yang katanya “Unggulan” di Indonesia. Dan, menurut saya, perlakuan yang didapat beliau ini,sebagai International Student dari pihak kampus juga, kurang memuaskan.

Saya akhirnya sadar, Bangga itu gak berarti apa – apa. Ada banyak kekurangan juga kok dalam kampus yang dibanggakan itu.(Tetap Bangga sih, tapi rendah hati juga :p )

Saya pun bertanya – tanya, apa yang sekarang beliau pikirkan tentang Indonesia dan isinya…

Katanya, Mahasiswa itu “Agent of Change” ,  maka saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswa untuk merubah moral Pencuri – pencuri seperti di atas… Karena Mahasiswa bukan hanya status, tapi mengenai apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa

Penerimaan Siswa Baru MAN Insan Cendekia Tahun Ajaran 2011/2012

Untuk Informasi PSB MAN Insan Cendekia tahun ajaran 2011/2012, silahkan KLIK DI SINI …

Berhubung kesibukan saya sebagai kelas 3, dan internet yang terbatas.. Untuk sementara , langsung ke situs resminya ya! Mohon maaf sebelumnya, kalau kurang bisa melayani pertanyaan – pertanyaan yang masuk.

PTN (2)

Melanjutkan tulisan saya di PTN (1), yang mengutip keluhan seorang teman saya. Biaya kuliah di salah satu PTN yang berkisar 100 jt selama empat tahun dan ia berpendapat kalau itu terlalu mahal. Memang, mungkin mahal itu relatif ya, karena jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, disana biaya perguruan tinggi berkisar 250 jt ke atas untuk 4 tahun masa studi.

Nah, argumentasi saya begini. Itu kan Singapura, yang pendapatan per kapitanya berkisar US$42,000 lebih. Sedangkan Indonesia, dengan biaya 100 juta saja, rasionya dengan pendapatan per kapita sudah mencapai 3 – 4x. Apa artinya? Artinya, kesenjangan pendapatan dalam mengakses pendidikan tinggi akan semakin besar. Masyarakat dengan pendapatan rata-rata saja akan sulit membiayai pendidikannya. Apalagi, pendapatan per kapita itu kan, pendapatan per tahun. Berarti, kalau studi 4 tahun, dan tanpa subsidi, seseorang dengan pendapatan rata-rata akan menghabiskan seluruh pendapatannya selama 4 tahun hanya untuk membiayai pendidikan tingginya.

Jika kita membandingkan dengan Malaysia, untuk biaya mahasiswa internasional misalnya, universitas negeri di Malaysia menawarkan program Undergraduate (Bachelor) hanya dengan biaya berkisar 70 – 100 juta (4 tahun masa studi). Tentu, untuk kalangan bumiputera mereka sendiri, biaya ini jauh lebih murah. Kalau dibagi dengan rasio biaya pendidikan/pendapatan per kapita,  rasio Malaysia hanya sekitar 1-1,5x ,itu pun dengan patokan biaya mahasiswa internasional.

Untuk memperkuat argumentasi saya, berikut saya lampirkan beberapa data dan rasio biaya pendidikan di sejumlah negara.

Negara Biaya seluruh studi (US$) Pendapatan per Kapita (US$) Rasio Biaya Studi/Pendapatan per Kapita
Indonesia 9,074 2,858 3,2
Malaysia 6,000 – 10,000 7,546 0,8 – 1,3
Singapura 22,400 – 35,266 42,653 0,5 – 0,8
Amerika Serikat 100,000 – 150,000 46,381 2,2 – 3,2
Inggris 15,000 – 20,000 35,720 0.4 – 0.6
Jepang 32,000 – 35,000 42,325 0.7 – 0.9
Masa Studi 4 Tahun, Di luar Jurusan Kedokteran, Universitas Negeri di masing – masing negara. Indonesia, menggunakan batas atas rata – rata 3 PTN (ITB,UI,UGM).

Bisa kita lihat pada tabel diatas, rasio Indonesia termasuk paling tinggi dan hanya dapat dibandingkan dengan AS. Itupun hanya menyamai pada batas atasnya. Sedangkan negara lain rata – rata memiliki rasio sekitar 1, bahkan Inggris hanya sekitar 0,4 – 0,6.

Hmm, jadi kira – kira begitu hasil analisis yang saya lakukan. Saya tidak tahu, ketimpangan tersebut apakah disebabkan oleh biaya pendidikannya yang memang mahal, atau pendapatan per kapita Indonesia yang terlalu kecil. Meski Begitu, saya percaya bahwa pemerintah kita, melalui elemen-elemennya seperti Kemendiknas, sudah memiliki berbagai program dalam menangani persoalan biaya, yang mungkin dihadapi masyarakat dalam mengakses Pendidikan Tinggi di Universitas. Sejumlah program itu, diantaranya beasiswa BIDIK MISI, juga beasiswa-beasiswa yang digulirkan di PTN masing-masing (ITB untuk semua, dll.) harus terus kita dukung dan awasi bersama. Sehingga pelaksanaannya akan semakin baik dan menjangkau semakin banyak masyarakat

Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi, bahwa Biaya merupakan salah satu pertimbangan yang krusial dalam memilih Pendidikan Tinggi, yang sangat terkait dengan masa depan seseorang, keluarga bahkan Bangsa dan Negara.

Oke, saya pikir cukup untuk kali ini, sampai jumpa di posting berikutnya!

PTN (1)

Bagi saya, seorang siswa yang sedang berada di kelas XII (3) SMA, kabar  – kabar mengenai Penerimaan Mahasiswa Perguruan Tinggi, selalu menarik (dan memang harus) untuk diikuti. Tahun ini, sistem berubah secara drastis, saat Kemendiknas menerbitkan peraturan yang isinya 60% mahasiswa harus diterima melalui seleksi nasional, sedangkan 40% dapat dilakukan melalui seleksi mandiri.

Perkara belum selesai. Saya yakin maksud Pemerintah membatasi Seleksi Mandiri, diantaranya adalah membatasi biaya yang mahal seperti (uang Pangkal) yang selalu menjadi syarat di Seleksi – Seleksi mandiri, belum lagi untuk meminimalisasi uang formulir pendaftaran yang berbeda – beda. Tapi, sepertinya kenyataannya berbeda….

Saya hanya ingin mengutip salah satu status FB milik teman saya

my new question: masuk ITB sekarang 55 juta dipukul rata. itu baru uang pangkal. per tahunnya 35 juta. apa ini yang MENDIKNAS maksud “SNMPTN diberlakukan untuk 60 PTN agar semua pelajar di SELURUH DAERAH di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan yang sama”?

Well, bukan saya yang bisa menjawab. Bagaimana Yang Terhormat Pak Menteri?

 

Info terakhir per 28 Januari.. ITB : 27 Juta per tahun

 

 

Moving Class, gimana ya?

Sudah seminggu lebih saya kembali belajar di sekolah tercinta MAN Insan Cendekia Serpong. Sebagai ‘anak’ kelas XII, saya ikut menjadi panitia PTS (kalau di sekolah lain MOS), membina adik – adik kelas yang baru menjadi “freshmen” di IC ini. But, well… di tengah kesibukan menjadi panitia itu, saya juga sibuk menyesuaikan diri dalam bidang akademis.

Menyesuaikan diri? Terdengar aneh bukan? Mengingat saya yang sudah ada di kelas XII, seharusnya saya sudah mengerti seluk – beluk sistem pembelajaran dong? Yaa, maklum saja, tahun ini IC menerapkan sistem belajar baru yang disebut “Moving Class”. Nama kerennya “Subject Method Based Class” *gak penting. Perubahan ini -menurut guru saya- merupakan yang pertama kali setelah IC berdiri selama 14 tahun.

Jadi bagaimana rasanya? ….. Melelahkan!!! But Honestly, saya sangat setuju degan penerapan sistem ini. Karena saya melihat, dengan sistem ini, banyak guru mata pelajaran yang lebih bersemangat mengajar, serta mempunyai lebih banyak “ruang” untuk menerapkan berbagai metode belajar -bukan hanya konvensional- . Tentu saja, pada akhirnya, ini akan membawa pengaruh baik pada siswa sendiri, karena akan semakin aktif, dan pembelajaran dapat menyentuh berbagai aspek, tidak hanya kognitif.

Manfaat lain Moving Class ? Siswa akan lebih segar, karena harus senantiasa dinamis mengikuti kelas yang berubah – ubah (FYI,banyak anak IC males olahraga 🙂 ), dan waktu belajar menjadi efisien, karena saat siswa tiba di kelas, guru sudah menunggu 🙂 Lebih jauh lagi, saya pikir, sistem ini dapat mempersiapkan para siswa untuk menghadapi cara belajar – mengajar saat kuliah nanti.

Namun, karena penerapannya terbilang baru di sekolah saya, fasilitas belum semuanya siap. Loker untuk tas dan buku belum ada -sedang dipesan katanya- , sehingga kami -para siswa- merasa lelah membawa tas kami yang berisi buku keliling gedung pendidikan setiap harinya. Bagi saya pribadi, ini masih ditambah dengan tidak adanya waktu tidur di kelas 😦 Juga, fasilitas untuk perizinan Laptop yang belum bisa kami bawa ke sekolah. Padahal saya yakin, Laptop sangat “matching” dengan sistem pembelajaran yang sekarang. Apalagi nanti, setelah sistem SKS diterapkan. Wah, mirip dengan mahasiswa – mahasiswa. Haha…..

Saya bermimpi bisa mem-posting dari pinggir lapangan, duduk di bawah pohon yang rindang. Sambil ditemani oleh kudapan pada waktu istirahat sekolah. Saya bermimpi dapat berdiskusi dengan teman – teman sambil browsing Internet di depan Ruang OSIS. Saya bermimpi dapat mengerjakan tugas sambil bersantai di serambi Masjid. Ah! Mungkin adik kelas saya nanti yang akan merasakannya….

Gambar dari http://www.wix.com

Upin dan Ipin, Satu Lagi Kecerdikan Malaysia

Waktu liburan kemarin banyak saya habiskan untuk menonton TV. Berbagai channel TV saya arungi, mulai dari stasiun TV nasional seperti hingga stasiun TV kabel seperti CNN, AXN dll. Kebetulan, saat menonton saya ditemani adik saya yang masih duduk di bangku SD. Otomatis, saya harus selalu berbagi channel dengannya. Dan channel kesukaannya adalah…. Disney Channel.

Sepintas, tidak ada yang aneh. Kartun yang ada di Disney channel yaa, memang “trademark” nya mereka, seperti Winnie the Pooh atau Mickey Mouse. Tak Berapa lama, saya terkejut… Mengapa?? Karena ada kartun Melayu yang diputar di situ. Well, yes, they’re Upin and Ipin. Selama ini saya pikir, Upin dan Ipin hanya populer di Indonesia karena faktor “kedekatan” budaya dan juga “serumpun”nya kita dengan Malaysia. Ternyata lebih dari itu….

Kita bisa berasumsi kalau Upin dan Ipin ditayangkan oleh channel seperti Disney, tentu berarti banyak sekali orang yang menyukainya, minimal, karena yang saya tonton itu Disney Channel Asia, yang wilayah siarannya mencakup negara – negara Asia seperti Vietnam, Hongkong dll. Sementara , saat kemudian saya berusaha mencari kartun sejenis yang merupakan produk Indonesia asli, saya hanya menemukan “Si Kabayan” yang bahkan hanya sempat tayang di TV swasta sebentar saja sebelum dikembalikan lagi ke TVRI. Sungguh sayang. –Mungkin si Kabayan terlalu monoton, karena ceritanya hanya diisi oleh nyanyian daerah saja–

Memang harus diakui, kualitas Upin dan Ipin memang lebih bagus, terutama pada jalan ceritanya, yang dapat menyelipkan pesan moral tanpa terlalu mencolok. Cocok sekali untuk anak – anak. — Dan jauh lebih baik daripada acara-acara yang diputar oleh stasiun TV nasional, yang hanya memutar sinetron dan film yang tidak mendidik. –

Dan saya *walau saya bangga dengan Indonesia, akhirnya saya mengakui keunggulan Malaysia atas negara kita. Kita hanya bisa mengejek Proton -merek mobil Malaysia- dengan label “produk murah, tidak berkualitas” atau “cuma labelnya aja Malaysia, yang buat kan orang lain” .Perlu diingat, meski belum terlalu populer dan kalah dengan merek Jepang, tetapi mereka telah mampu menembus pasar Eropa yang terkenal akan standar kualitasnya yang tinggi. Sementara kita berani mengejek mereka padahal hanya menjadi “tempat pabrik” bagi perusahaan – perusahaan mobil Jepang.

Belum lagi gaung Malaysia dengan “Visit Malaysia” nya yang jauh lebih baik daripada “Visit Indonesia Year”. Bayangkan saja, saat Malaysia mempromosikan Visit Malaysia – nya, mereka mampu menampakkan banner iklannya di pertandingan2 EPL (Premier League). ~_~

Tampaknya kita harus belajar kepada Malaysia, terutama soal bagaimana menjajakan dagangannya. (Marketing)

Dan Buat anda yang mencari tontonan bermoral untuk anak – anak, nikmatilah satu lagi produk dari Malaysia, Upin dan Ipin. Selamat Menonton!

Pengumuman Seleksi Tulis MAN Insan Cendekia tahun ajaran 2010/2011

waha…. maaf sekali… kemunculannya sangat – sangat  telat di blog ini….. soalnya udah 2 bulan saya sibuk… dengan tugas akademik…. belajar, berusaha untuk naik kelas dan olimpiade…… untuk yang udah menunggu lama di blog ini dan mengirim comment serta merasa kecewa…. saya memohon maaf yang sebesar2nya ya!

Hasil seleksinya ada di bawah ini…..

Daftar siswa yang lolos seleksi untuk penempatan di MAN Insan Cendekia Serpong 2010/2011

1 111320860 ACHMAD FAIZIN 28/04/1995
2 111130865 AHMAD FAIZ SIHAM 25/10/1995
3 341112410 AHMAD RIFAI ASHARI 14/03/1996
4 111130872 AHMAD ROFIUDIN 09/10/1995
5 111320884 ALFIAN KUSUMADWARDHANA 24/03/1995
6 131121234 ALIFATIN NUR FAIZAH 06/11/1995
7 341152432 ALKHONSA ADIBAH 10/03/1995
8 341152434 AMALIA LUPITASARI 17/12/1994
9 101110576 ANASIYYA SITI LUTHFIYAH 05/01/1995
10 101110582 ANNISA DEVY MAHARANI 10/01/1996
11 281151798 APRESIO KEFIN FAJRIAL 19/01/1995
12 111120901 ARAFAH KHOIRUL UMMAH 13/10/1995 Continue reading