PTN (2)

Melanjutkan tulisan saya di PTN (1), yang mengutip keluhan seorang teman saya. Biaya kuliah di salah satu PTN yang berkisar 100 jt selama empat tahun dan ia berpendapat kalau itu terlalu mahal. Memang, mungkin mahal itu relatif ya, karena jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, disana biaya perguruan tinggi berkisar 250 jt ke atas untuk 4 tahun masa studi.

Nah, argumentasi saya begini. Itu kan Singapura, yang pendapatan per kapitanya berkisar US$42,000 lebih. Sedangkan Indonesia, dengan biaya 100 juta saja, rasionya dengan pendapatan per kapita sudah mencapai 3 – 4x. Apa artinya? Artinya, kesenjangan pendapatan dalam mengakses pendidikan tinggi akan semakin besar. Masyarakat dengan pendapatan rata-rata saja akan sulit membiayai pendidikannya. Apalagi, pendapatan per kapita itu kan, pendapatan per tahun. Berarti, kalau studi 4 tahun, dan tanpa subsidi, seseorang dengan pendapatan rata-rata akan menghabiskan seluruh pendapatannya selama 4 tahun hanya untuk membiayai pendidikan tingginya.

Jika kita membandingkan dengan Malaysia, untuk biaya mahasiswa internasional misalnya, universitas negeri di Malaysia menawarkan program Undergraduate (Bachelor) hanya dengan biaya berkisar 70 – 100 juta (4 tahun masa studi). Tentu, untuk kalangan bumiputera mereka sendiri, biaya ini jauh lebih murah. Kalau dibagi dengan rasio biaya pendidikan/pendapatan per kapita,  rasio Malaysia hanya sekitar 1-1,5x ,itu pun dengan patokan biaya mahasiswa internasional.

Untuk memperkuat argumentasi saya, berikut saya lampirkan beberapa data dan rasio biaya pendidikan di sejumlah negara.

Negara Biaya seluruh studi (US$) Pendapatan per Kapita (US$) Rasio Biaya Studi/Pendapatan per Kapita
Indonesia 9,074 2,858 3,2
Malaysia 6,000 – 10,000 7,546 0,8 – 1,3
Singapura 22,400 – 35,266 42,653 0,5 – 0,8
Amerika Serikat 100,000 – 150,000 46,381 2,2 – 3,2
Inggris 15,000 – 20,000 35,720 0.4 – 0.6
Jepang 32,000 – 35,000 42,325 0.7 – 0.9
Masa Studi 4 Tahun, Di luar Jurusan Kedokteran, Universitas Negeri di masing – masing negara. Indonesia, menggunakan batas atas rata – rata 3 PTN (ITB,UI,UGM).

Bisa kita lihat pada tabel diatas, rasio Indonesia termasuk paling tinggi dan hanya dapat dibandingkan dengan AS. Itupun hanya menyamai pada batas atasnya. Sedangkan negara lain rata – rata memiliki rasio sekitar 1, bahkan Inggris hanya sekitar 0,4 – 0,6.

Hmm, jadi kira – kira begitu hasil analisis yang saya lakukan. Saya tidak tahu, ketimpangan tersebut apakah disebabkan oleh biaya pendidikannya yang memang mahal, atau pendapatan per kapita Indonesia yang terlalu kecil. Meski Begitu, saya percaya bahwa pemerintah kita, melalui elemen-elemennya seperti Kemendiknas, sudah memiliki berbagai program dalam menangani persoalan biaya, yang mungkin dihadapi masyarakat dalam mengakses Pendidikan Tinggi di Universitas. Sejumlah program itu, diantaranya beasiswa BIDIK MISI, juga beasiswa-beasiswa yang digulirkan di PTN masing-masing (ITB untuk semua, dll.) harus terus kita dukung dan awasi bersama. Sehingga pelaksanaannya akan semakin baik dan menjangkau semakin banyak masyarakat

Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi, bahwa Biaya merupakan salah satu pertimbangan yang krusial dalam memilih Pendidikan Tinggi, yang sangat terkait dengan masa depan seseorang, keluarga bahkan Bangsa dan Negara.

Oke, saya pikir cukup untuk kali ini, sampai jumpa di posting berikutnya!

6 thoughts on “PTN (2)

  1. kuliah adalah petualangan! bagaimanapun juga bagi pencari ilmu, kuliah adalah kewajiban. di sana ada gudangnya seni hidup bagi yang explore. dunia terbuka luas.
    tapi ingat duniapun bisa sempit tiba-tiba dan menghimpit rongga pernapasan kalau kita salah jalan saat KULIAH.

    Like

  2. Seharusnya negara menganggap bahwa pendidikan adalah ‘investasi’ untuk masa depan, bukan yang terjadi selama ini yang dianggap sebagai ‘cost’, dan malah dipacu agar Universitas Negeri untuk ‘mandiri’ yang sebenarnya merupakan lepas tangan dari pemerintah dan ‘pembiaran’ agar Universitas menjadi bussiness oriented, menyedihkan!

    Like

    • Setuju, karena, kita harus melihat biaya tidak langsungnya juga…
      Mungkin pendidikan memang mahal jika hanya dilihat dalam konteks anggaran dalam bentuk angka, tetapi pendidikan memiliki efek samping ke masyarakat yang jauh lebih luas dari pada sekedar angka….. bukan begitu?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s