Category Archives: Opini
Ooh, Sudah 2 Tahun toh?
Jujur saja, setelah lulus dari Insan Cendekia, saya agak jarang membeli dan membaca koran. Saya yang biasanya mendapat suguhan 4 koran nasional setiap hari seperti Kompas dan Bisnis Indonesia, tiba – tiba menjadi buta akan hal – hal terbaru yang ada di masyarakat. Maka, saat saya membeli koran Kompas edisi Senin (17/10), reaksi saya yang pertama adalah “Ooh, SBY udah mau 2 tahun toh.. Gak sadar ya?”
Maka, hari – hari setelahnya, kepala saya dipenuhi dengan berita – berita reshuffle menteri serta rencana aksi turun ke jalan oleh sebagian kelompok mahasiswa. Bosan juga sih, karena kadang saya merasa dibanding baca bagian Politik, mendingan baca bagian ekonomi atau olahraga. Yang konkrit2 gitu.
Banyak Teman dan kakak kelas saya, yang berbicara menggebu – gebu, mengenai Aksi, demo, perubahan atau semacamnya. Apalagi teman dan kakak kelas yang ada di PTN di Depok, wah, pasti lebih semangat dan aktif. Kata teman saya, “Kita kan trade-mark nya Kampus Perubahan.” Maka saya tidak heran kalau mereka cukup sering terlihat di TV
. Tapi,pada 20 Oktober kemarin,, KM ITB (sebutan untuk BEM di ITB) juga ikut menggelar aksi di depan gedung sate. Sesuatu yang cukup jarang dilakukan oleh mahasiswa ITB. Saya sendiri sampai sekarang tidak terlalu tertarik dengan aksi, demo dan semacamnya. Tetapi, pertanyaannya, sudah sebegitu parahkah persoalan pada pemerintahan kali ini, sampai – sampai KM ITB menggelar aksi? Read the rest of this entry
Mahasiswa, lalu Apa?
Sudah kurang lebih dua bulan, saya resmi menjadi seorang Mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Katanya, almamater saya yang baru ini adalah kampus unggulan. Bahkan, dosen – dosen dan kakak – kakak senior pasti berujar, “Dulu, mahasiswa baru ITB itu disambut dengan Spanduk ‘Selamat Datang Putra – Putri Terbaik Bangsa’”. Oke, saya no comment bagian ini. Karena beberapa orang kemudian memplesetkannya menjadi “Putra – Putri Terkaya” -___-“
Ada desas desus umum yang menyatakan “Mahasiswa baru di ITB itu biasanya mukanya masih cerah – cerah. Trus masih euforia. Atribut ITB, kaos ITB. Masih BANGGA karena berhasil lolos seleksi masuk ke ITB”.
Dan saya, tidak mempersalahkan statement di atas (yang saya rasa, benar untuk sebagian besar maba), sampai akhirnya Senin kemarin, saya mengalami kejadian yang memaksa saya untuk merenung.
Saya bertemu seorang International Student dari Libya, yang sedang ikut program Master di ITB. Ia kehilangan tas ranselnya ketika shalat di Mushola Perpustakaan. Kebetulan, beberapa menit sebelumnya, saya juga baru saja menyelesaikan shalat di situ. Akhirnya,saya menemani orang ini, (karena ia belum lancar bahasa Indonesia), menjadi translatornya, ke Pos Satpam dan saya antar pula ke fakultasnya, untuk mendapat bantuan mengenai tasnya tersebut, yang salah satu isinya adalah Paspor dan KITAS. Boleh dibilang respon dari Satpam dan fakultasnya kurang memuaskan.
Terus terang saja, selama menemani beliau ini, saya seperti menanggung malu, karena sedemikian parahnya moral si Pencuri (yang saya yakin orang Indonesia), sampai hati mengambil barang orang yang sedang menunaikan Shalat. Bukan itu saja, Pencurian ini terjadi di lingkungan kampus yang katanya “Unggulan” di Indonesia. Dan, menurut saya, perlakuan yang didapat beliau ini,sebagai International Student dari pihak kampus juga, kurang memuaskan.
Saya akhirnya sadar, Bangga itu gak berarti apa – apa. Ada banyak kekurangan juga kok dalam kampus yang dibanggakan itu.(Tetap Bangga sih, tapi rendah hati juga :p )
Saya pun bertanya – tanya, apa yang sekarang beliau pikirkan tentang Indonesia dan isinya…
Katanya, Mahasiswa itu “Agent of Change” , maka saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswa untuk merubah moral Pencuri – pencuri seperti di atas… Karena Mahasiswa bukan hanya status, tapi mengenai apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa
![]()
Seleksi Itu Penting
Dewasa ini, arus globalisasi semakin berhembus kencang. Banyak pengamat yang menilai, tak akan ada manusia yang dapat menghindari pengaruh – pengaruh fenomena ini. Batas Negara semakin tidak jelas, bahkan stereotip seperti “kebudayaan timur yang lebih ‘strict’ dibandingkan kebudayaan di Barat” tampaknya semakin bias.
Begitu pun yang terjadi di Indonesia. Semenjak gelombang euforia ‘westernisasi’ tahun 70-an, yang kemudian kembali lagi terjadi pada era reformasi, ada satu hal yang selalu sama. Yaitu bahwa, yang pertama kali terpengaruh adalah generasi remaja/ anak muda.
Memang, generasi muda adalah generasi yang menurut banyak psikolog, suka mencoba hal – hal baru di luar yang sudah umum. Maka, saat mereka melihat sesuatu yang unik, tanpa pikir panjang, mereka mencoba mengikutinhya. Ini pula yang berlaku kepada budaya – budaya asing yang masuk, yang masih terasa baru bagi kita Bangsa Indonesia. Padahal, semuanya tentu memiliki 2 sisi mata uang yang berbeda, positif dan negatif.
Jika kita lihat, bukan hanya di kota – kota besar, sudah merupakan hal yang lazim jika wanita – wanita memakai rok di atas lutut, atau atasan yang sedikit memperlihatkan dadanya. Di kalangan laki – laki, bukan merupakan hal yang aneh saat mereka merayakan sesuatu dengan “minum-minum” di bar.
Apakah semuanya murni kesalahan dari generasi muda? Saya pikir tidak. Nilai – nilai kebebasan yang masuk telah membuat sebagian orang tua menganutnya dalam pendidikan keluarga. Mereka membebaskan anak – anaknya, yang seringkali terlalu bebas, karena tidak memberikan ‘framing’. Nilai – nilai agama yang dulu teguh ditanamkanpun, dirasa makin sulit, meski kini mulai hadir konsep pendidikan yang berintegrasi dengan agama.
Padahal, saya pikir, jika fundamental yang ditanamkan pada generasi muda kuat, maka mereka akan dengan lihai menyeleksi sendiri mana budaya – budaya asing positif yang boleh kita serap. Dengan demikian, dapat disimpulkan semuanya kembali kepada diperlukannya suatu kepedulia orang tua terhadap anaknya. Ditambah dengan pemberian proses pendidikan yang baik.
![]()
PTN (2)
Melanjutkan tulisan saya di PTN (1), yang mengutip keluhan seorang teman saya. Biaya kuliah di salah satu PTN yang berkisar 100 jt selama empat tahun dan ia berpendapat kalau itu terlalu mahal. Memang, mungkin mahal itu relatif ya, karena jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, disana biaya perguruan tinggi berkisar 250 jt ke atas untuk 4 tahun masa studi.
Nah, argumentasi saya begini. Itu kan Singapura, yang pendapatan per kapitanya berkisar US$42,000 lebih. Sedangkan Indonesia, dengan biaya 100 juta saja, rasionya dengan pendapatan per kapita sudah mencapai 3 – 4x. Apa artinya? Artinya, kesenjangan pendapatan dalam mengakses pendidikan tinggi akan semakin besar. Masyarakat dengan pendapatan rata-rata saja akan sulit membiayai pendidikannya. Apalagi, pendapatan per kapita itu kan, pendapatan per tahun. Berarti, kalau studi 4 tahun, dan tanpa subsidi, seseorang dengan pendapatan rata-rata akan menghabiskan seluruh pendapatannya selama 4 tahun hanya untuk membiayai pendidikan tingginya.
Jika kita membandingkan dengan Malaysia, untuk biaya mahasiswa internasional misalnya, universitas negeri di Malaysia menawarkan program Undergraduate (Bachelor) hanya dengan biaya berkisar 70 – 100 juta (4 tahun masa studi). Tentu, untuk kalangan bumiputera mereka sendiri, biaya ini jauh lebih murah. Kalau dibagi dengan rasio biaya pendidikan/pendapatan per kapita, rasio Malaysia hanya sekitar 1-1,5x ,itu pun dengan patokan biaya mahasiswa internasional.
Untuk memperkuat argumentasi saya, berikut saya lampirkan beberapa data dan rasio biaya pendidikan di sejumlah negara.
| Negara | Biaya seluruh studi (US$) | Pendapatan per Kapita (US$) | Rasio Biaya Studi/Pendapatan per Kapita |
| Indonesia | 9,074 | 2,858 | 3,2 |
| Malaysia | 6,000 – 10,000 | 7,546 | 0,8 – 1,3 |
| Singapura | 22,400 – 35,266 | 42,653 | 0,5 – 0,8 |
| Amerika Serikat | 100,000 – 150,000 | 46,381 | 2,2 – 3,2 |
| Inggris | 15,000 – 20,000 | 35,720 | 0.4 – 0.6 |
| Jepang | 32,000 – 35,000 | 42,325 | 0.7 – 0.9 |
Bisa kita lihat pada tabel diatas, rasio Indonesia termasuk paling tinggi dan hanya dapat dibandingkan dengan AS. Itupun hanya menyamai pada batas atasnya. Sedangkan negara lain rata – rata memiliki rasio sekitar 1, bahkan Inggris hanya sekitar 0,4 – 0,6.
Hmm, jadi kira – kira begitu hasil analisis yang saya lakukan. Saya tidak tahu, ketimpangan tersebut apakah disebabkan oleh biaya pendidikannya yang memang mahal, atau pendapatan per kapita Indonesia yang terlalu kecil. Meski Begitu, saya percaya bahwa pemerintah kita, melalui elemen-elemennya seperti Kemendiknas, sudah memiliki berbagai program dalam menangani persoalan biaya, yang mungkin dihadapi masyarakat dalam mengakses Pendidikan Tinggi di Universitas. Sejumlah program itu, diantaranya beasiswa BIDIK MISI, juga beasiswa-beasiswa yang digulirkan di PTN masing-masing (ITB untuk semua, dll.) harus terus kita dukung dan awasi bersama. Sehingga pelaksanaannya akan semakin baik dan menjangkau semakin banyak masyarakat
Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi, bahwa Biaya merupakan salah satu pertimbangan yang krusial dalam memilih Pendidikan Tinggi, yang sangat terkait dengan masa depan seseorang, keluarga bahkan Bangsa dan Negara.
Oke, saya pikir cukup untuk kali ini, sampai jumpa di posting berikutnya!
![]()
PTN (1)
Bagi saya, seorang siswa yang sedang berada di kelas XII (3) SMA, kabar – kabar mengenai Penerimaan Mahasiswa Perguruan Tinggi, selalu menarik (dan memang harus) untuk diikuti. Tahun ini, sistem berubah secara drastis, saat Kemendiknas menerbitkan peraturan yang isinya 60% mahasiswa harus diterima melalui seleksi nasional, sedangkan 40% dapat dilakukan melalui seleksi mandiri.
Perkara belum selesai. Saya yakin maksud Pemerintah membatasi Seleksi Mandiri, diantaranya adalah membatasi biaya yang mahal seperti (uang Pangkal) yang selalu menjadi syarat di Seleksi – Seleksi mandiri, belum lagi untuk meminimalisasi uang formulir pendaftaran yang berbeda – beda. Tapi, sepertinya kenyataannya berbeda….
Saya hanya ingin mengutip salah satu status FB milik teman saya
my new question: masuk ITB sekarang 55 juta dipukul rata. itu baru uang pangkal. per tahunnya 35 juta. apa ini yang MENDIKNAS maksud “SNMPTN diberlakukan untuk 60 PTN agar semua pelajar di SELURUH DAERAH di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan yang sama”?
Well, bukan saya yang bisa menjawab. Bagaimana Yang Terhormat Pak Menteri?
Info terakhir per 28 Januari.. ITB : 27 Juta per tahun
![]()
Happy Birthday, Indonesia !
Tanggal 17 Agustus 2010, negara kita tercinta akan berulang tahun yang ke -65. Apakah sudah tua atau masih muda?
Well, Subjektif. Kadang saya merasa, Indonesia itu sudah tua. Kenapa? Karena “Tanah” nya udah mulai sakit – sakitan. Bencana alam, terjadi tiap bulan. Tsunami, Gempa Bumi, Gunung Berapi. Politik pun, tiap bulan pasti ada yang heboh. Sekber lah, Gaji DPR lah, atau GEDUNG DPR lah. Rakyat, tiap bulan pasti ada yang dikeluhkan. Harga bahan pokok lah, Tarif Listrik lah, BBM lah. Seolah – olah, Indonesia ini ya emang udah takdirnya begini, dan tinggal nunggu “mati” atau dibunuh sama negara lain.
Kadang pula saya merasa, Indonesia itu masih muda. Masih semangat. Kenapa? Karena, kalau liat laporan Bank Dunia misalnya, ekonomi Indonesia tumbuh di atas 6%. Atau kalau baca sejarah, Kerajaan – kerajaan misalnya biasanya baru jaya saat usianya udah di atas 100 tahun. Amerika Serikat yang adi daya itu, umurnya udah lebih dari 300 tahun. Inggris, lebih lama lagi. So, still a lot of time to be grown, right? Sumber Daya alam masih banyak… Struktur Penduduk yang bentuknya piramida, masih menandakan dukungan untuk ekspansi lebih besar lagi.
Jadi Kesimpulannya? Gak Tau juga, tapi sebagai WNI yang baik, saya akan tetap mengucapkan Selamat Ulang Tahun pada “Ibu Pertiwi” saya (mungkin juga anda) , INDONESIA
Posted with slow speed connection
![]()
Moving Class, gimana ya?
Sudah seminggu lebih saya kembali belajar di sekolah tercinta MAN Insan Cendekia Serpong. Sebagai ‘anak’ kelas XII, saya ikut menjadi panitia PTS (kalau di sekolah lain MOS), membina adik – adik kelas yang baru menjadi “freshmen” di IC ini. But, well… di tengah kesibukan menjadi panitia itu, saya juga sibuk menyesuaikan diri dalam bidang akademis.
Menyesuaikan diri? Terdengar aneh bukan? Mengingat saya yang sudah ada di kelas XII, seharusnya saya sudah mengerti seluk – beluk sistem pembelajaran dong? Yaa, maklum saja, tahun ini IC menerapkan sistem belajar baru yang disebut “Moving Class”. Nama kerennya “Subject Method Based Class” *gak penting. Perubahan ini -menurut guru saya- merupakan yang pertama kali setelah IC berdiri selama 14 tahun.
Jadi bagaimana rasanya? ….. Melelahkan!!! But Honestly, saya sangat setuju degan penerapan sistem ini. Karena saya melihat, dengan sistem ini, banyak guru mata pelajaran yang lebih bersemangat mengajar, serta mempunyai lebih banyak “ruang” untuk menerapkan berbagai metode belajar -bukan hanya konvensional- . Tentu saja, pada akhirnya, ini akan membawa pengaruh baik pada siswa sendiri, karena akan semakin aktif, dan pembelajaran dapat menyentuh berbagai aspek, tidak hanya kognitif.
Manfaat lain Moving Class ? Siswa akan lebih segar, karena harus senantiasa dinamis mengikuti kelas yang berubah – ubah (FYI,banyak anak IC males olahraga
), dan waktu belajar menjadi efisien, karena saat siswa tiba di kelas, guru sudah menunggu
Lebih jauh lagi, saya pikir, sistem ini dapat mempersiapkan para siswa untuk menghadapi cara belajar – mengajar saat kuliah nanti.
Namun, karena penerapannya terbilang baru di sekolah saya, fasilitas belum semuanya siap. Loker untuk tas dan buku belum ada -sedang dipesan katanya- , sehingga kami -para siswa- merasa lelah membawa tas kami yang berisi buku keliling gedung pendidikan setiap harinya. Bagi saya pribadi, ini masih ditambah dengan tidak adanya waktu tidur di kelas
Juga, fasilitas untuk perizinan Laptop yang belum bisa kami bawa ke sekolah. Padahal saya yakin, Laptop sangat “matching” dengan sistem pembelajaran yang sekarang. Apalagi nanti, setelah sistem SKS diterapkan. Wah, mirip dengan mahasiswa – mahasiswa. Haha…..
Saya bermimpi bisa mem-posting dari pinggir lapangan, duduk di bawah pohon yang rindang. Sambil ditemani oleh kudapan pada waktu istirahat sekolah. Saya bermimpi dapat berdiskusi dengan teman – teman sambil browsing Internet di depan Ruang OSIS. Saya bermimpi dapat mengerjakan tugas sambil bersantai di serambi Masjid. Ah! Mungkin adik kelas saya nanti yang akan merasakannya….
![]()
Macam – macam Jual Beli
Jujur aja, sebenernya gue adalah orang yang gak suka kalo kita harus belanja dengan harus bertanya pada penjualnya , macem toko2 non – swalayan. Kayaknya gak praktis gimana gitu. Gak efisien (haha). Bagi gue yang paling praktis ,ya model2 belanja yang kayak swalayan gitu, ambil keranjang atau trolly, jalan keliling ubek – ubek cari barangnya dan kemudian bayar barangnya di kasir, so simple. Yaa… namanya juga kasir , sengomong – ngomongnya kan paling “ oh,,indomie gorengnya 5 ya?” kekeke….
Yup, yang bikin gue sebel dari model non – swalayan sebenernya satu sih. Kita harus ngomong ke yang jual itu, nyari apa-lah,harganya berapa. Mending kalo penjualnya to-the point,lah kalau nggak?? Yang keluar bisa mode Jayus dan Garing (krik krik krik) atau ngeselin, apalagi kalau tawar menawar ~_~
Nih percakapan gue pas transaksi jual beli terakhir mungkin bisa disimak (Haha)
Jual Beli 1
Gue : Mas, nyari filter nih… M : oh ..sini nih.. ukuran berapa? Gue : **mm, btw mas… kok mereknya ko**ii? Harganya berapa? M : iyalah… ni barang bagus…harganya 1xx ribu… Gue : hah? Mahal banget..mereknya ko**ii lagi… gue waktu tu liat *oya sama ken*o aja segini…. M : (ngotot) yaelah…. Itu mah beli merek kali……. Ni juga bla bla bla… Gue : (karena emang gak ada toko lagi dan udah mendesak, waktu pun menipis) ya udah deh.. segini aja! (nada maksa)Jual Beli 2
Yang ini bareng bapak gue….. Gue : Mbak ada modem ya? (eksternal yang 3g itu loh) Mbak penjual : oh ada2… ini yang gini harganya segini.. bla bla bla (ngebandingin paket2 nya) Gue : Ooh gitu mbak….. kalo sama ini jadi berapa ya? ….percakapan segitiga antara mbak penjual, gue dan bapak gue… Gue : yaudah deh mbak, yang ini aja…. …transaksi… Mbak Penjual nulis kwitansinya…. Ngebungkusin barangnya… siap2 penyerahan barang… ..but..SUDDENLY Mas2 penjualnya (bosnya) : (ngasih kartu nama ke mbak penjual) yak..sekarang tulis nama kamu + nomer hape yang bisa dihubungi…. (tulis).. udah selesai? (mbaknya disuruh ngasih kartu namanya ke bapak gue) (then bosnya bilang gini : “Pak, ni kartu namanya, kalo ada masalah silakan hubungi nomer ini (no hape si mbaknya), kalo gak ada masalah juga gapapa kok pak, 24 jam selalu siap ditelpon nomernya (senyum2 gak jelas) …Mbak Penjual : Ketawa Salting Bapak Gue : Ketawa Gue : Faceless+Speechless…. (dalem hati… “Jayus Banget”)
From My Holiday![]()
Reuni (2)
Jadi … kembali ke tulisan saya pada Reuni (1) , apa dampak dari fenomena anak desa masuk kota itu? Atau apa latar belakangnya ? Menurut perhitungan saya sih, generasi – generasi seperti Ayah saya dan teman – temannya itu, sekarang sudah mulai atau sudah mendapat jabatan yang cukup berpengaruh di instansi tempat mereka bekerja..(dengan umur 40-an), Sehingga, *mohon maaf kalau salah*, saya beranggapan, fenomena anak desa masuk kota termasuk mencapai puncaknya saat generasi Ayah saya..
Generasi seperti Ayah saya kuliah pada era 1980-an, saat Indonesia mulai merasakan hasil dari pembangunannya setelah pemulihan ekonomi akibat krisis pada 1960-an. Banyak yang mendapat Beasiswa, baik dari pemerintah maupun Swasta, tak jarang pula BUMN – BUMN menyekolahkan karyawannya, di dalam atau di luar negeri.
Dan memang, akses pendidikan tinggi yang cukup lancar itulah, yang membuat Ayah saya dan teman – teman – temannya dapat seperti sekarang. Bagi kedua orangtua saya, pendidikan tinggi yang menawarkan berbagai macam jalur, serta mematok uang pangkal, *meski katanya beasiswa juga diperbanyak* sangat ironis.
Ironisnya pula, ini kebanyakan terjadi di PTN favorit yang telah ber-BHMN, seperti ITB,UGM atau UI. Bagaimana dengan anak PNS biasa, yang mungkin golongannya tidak tinggi2 amat? Golongan IIIA misalnya…*tapi bukan Gayus*.. Gaji pokoknya aja cuma berapa… dan bagi yang bekerja di bagian/ departemen selain keuangan, belum tentu mereka dapat remunerasi.
Ya, saya tidak bisa berkata apa – apa lagi, intinya itu yang saya ketahui, mungkin para pembaca yang mempunyai bantahan atau sudut pandang berbeda, dapat memberikan saran, komentar dan kritiknya.
Tulisan ini sebenarnya dibuat sebelum MK membatalkan UU BHP, sehingga jika ada ketidaksesuaian info , mohon dikoreksi dan dimaklumi.
Reuni (1)
Reuni? Judul yang aneh….
) Jadi gini… Beberapa waktu yang lalu, gue diajak ortu gue ke rumah temennya di Bogor,ckck.. Gue pikir kan, habis jemput anak di IC bukannya nyenengin anaknya kek.. beliin macem – macem *hihi* eh.. malah diajak muter2 dulu….yaa,Bogor kan lumayan jauh… bisa 1 jaman*jam-an maksudnya, jaman mah kepanjangan..hehe*
Brangkatlah gue sekeluarga… minus adek gue yang SMP*karena “SMPN” hari sabtu tetep masuk*, Udah telat tuh sebenernya, aturannya acara ortu gue tuh pas jam makan siang.. tapi karena jemput gue dulu, yaa..telat dikit… 1/2 2 an baru sampe rumah yang dimaksud.Untung gak nyasar2 segala…
Jadi acaranya sih sebenernya reuni kecil – kecilan… ceritanya.. anak madura yang dulu kuliah di Jogja/UGM. Yaa… ternyata sekarang udah kerja di macem2 instansi.. membangun karir masing2 *lebay ya?* ada yang di Departemen Pertahanan *waaw*.., ada yang jadi geofisis ahli*bayarannya mahal bro*, PLN , BP MIGAS *ini siih… hehe* dll…..
Bagi gue sampe sekarang, sangat mengharukan melihat banyak orang seperti para beliau2 ini.. yang dulu sebagian besar hidup di desa, rumah juga sekedar rumah, makan pas2an atau sulit, sekarang bisa menjadi *kata orang yaa…* kelas menengah, yang terdidik dan berkontribusi terhadap negara dengan jalannya masing – masing..
Saya jadi teringat akan perkataan seorang ahli politik Amerika, Liddle atau siapa gitu, saat berkomentar di novel Negeri 5 Menara, yang ceritanya seperti fenomena di atas, dari desa, sekolah rajin, kemudian sukses,katanya ” Bagi anda yang ingin memahami asal – usul kelas menengah di Indonesia, wajib baca buku ini”
Ya, semakin banyak saya tahu, memang banyak orang – orang yang sekarang menjadi pekerja2 di Ibu kota, tadinya hanyalah seorang penduduk desa.*ini sebabnya saat lebaran, jakarta kosong
)* Tapi, karena mungkin kegigihannya, baik dalam mengejar penduidikan ataupun berwirausaha, mereka bisa mengubah nasibnya.,


