Category Archives: Artikel
Penerimaan Siswa Baru MAN Insan Cendekia Serpong 2012/2013
Penerimaan Peserta Didik Baru dilakukan secara transparan, terukur, dan dapat dipertanggung jawabkan. Syarat mengikuti pendaftaran peserta didik baru sebagai berikut:
- Pendaftar adalah peserta didik kelas IX MTs/SMP pada TP 2011/2012.
- Usia pendaftar maksimal 17 tahun per 1 Juli 2012.
- Pada kelas IX semester 1 tahun pelajaran 2011/2012 merupakan peserta didik terbaik pada madrasah/sekolah berdasarkan pertimbangan dan rekomendasi kepala madrasah/sekolah asal (surat rekomendasi dibuat secara kolektif oleh kepala madrasah/sekolah asal peserta didik) dengan ketentuan: Madrasah/sekolah yang mempunyai rombongan belajar kelas IX sebanyak:
- a. 1-3 kelas, berhak mengirim maksimal 5 orang peserta
- b. 4-5 kelas, berhak mengirim maksimal 7 orang peserta
- c. > 5 kelas, berhak mengirim maksimal 9 orang peserta
- Khusus pendaftar yg memiliki prestasi di bidang sains pada kompetisi tingkat nasional dan internasional, seperti ikut serta OSN, LKIR, penelitian yang diselenggarakan Kemenag, Kemendikbud, LIPI, BPPT, Kemenristek, dapat diberikan rekomendasi dari Kepala Madrasah/Sekolah asal peserta didik secara individu di luar batasan poin 3 di atas.
Keterangan: rombongan belajar adalah jumlah total kelas IX pada madrasah/sekolah tahun pelajaran 2011/2012 termasuk di dalamnya kelas regular, kelas unggulan, kelas internasional, kelas bilingual, dan kelas akselerasi
Meteri seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia Serpong dan MAN Insan Cendekia Gorontalo meliputi Tes Potensi Belajar (TPB) dan tes akademis untuk mata pelajaran: matematika, IPA, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.
Alur Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia Tahun 2012 adalah sebagai berikut:
- Persiapan (1 Januari – 7 Februari 2012)
- Sosialisasi & Publikasi (13 Januari – 31 Maret 2012)
- Proses Pendaftaran (1 – 21 April 2012)
- Seleksi Berkas (1 – 25 April 2012)
- Pengumuman Peserta Tes (26 April 2012)
- Pelaksanaan Tes (12 Mei 2012)
- Pengumuman Kelulusan (28 Mei 2012)
- Daftar Ulang (1 – 18 Juni 2012)
- Awal Masuk Madrasah (7 Juli 2012-tentatif)
Kontak :
MAN Insan Cendekia Serpong : Jl. Cendekia BSD Sektor XI, Serpong,
Tangerang, Banten 15310, Telp (021) 7563578 – 80
Informasi dan Pertanyaan lebih lanjut cek di www.ic.sch.id
2012, Be Better
Yak, halo semua… Setelah agak lama gak nge-post, akhirnya muncul juga posting pertama ditahun ini. Di pertengahan bulan Januari ini, yang nuansa tahun barunya masih terasa, terdapat suasana yang berbeda dalam menyikapi dan merayakannya. Flashback ke tahun 2011 kemarin, bulan – bulan awal di 2011, justru saya berada dalam suasana yang kurang santai, karena libur yang sebentar, masih di Asrama, serta menghadapi persiapan ujian – ujian seperti UN dan SNMPTN Berbeda dengan 2012, dimana status saya sekarang mahasiswa, libur lebih panjang, dan jadwal kegiatan yang lebih bebas.
Di 2012 ini, resolusi saya sederhana saja, Saya ingin mendapat IP semester 2 yang lebih baik dari semester kemarin,sehingga saya bisa masuk jurusan yang saya impikan. Teknik Kimia! Lalu bisa me-manage waktu untuk aktif di Unit kegiatan mahasiswa yang saya ikuti, mengingat di semester ini, saya mulai aktif penuh di Unit2 tersebut. Mudah – mudahan juga Ibadah saya tidak menurun, (tapi susah sih), Semoga Allah melapangkan jalan…. Itu aja sih harapan – harapan saya di 2012 ini, tentu, rencana – rencana yang sifatnya lebih mikro dan detil ada, tapi itu di-list untuk disimpen sendiri aja deh :-p
Salam
![]()
Ooh, Sudah 2 Tahun toh?
Jujur saja, setelah lulus dari Insan Cendekia, saya agak jarang membeli dan membaca koran. Saya yang biasanya mendapat suguhan 4 koran nasional setiap hari seperti Kompas dan Bisnis Indonesia, tiba – tiba menjadi buta akan hal – hal terbaru yang ada di masyarakat. Maka, saat saya membeli koran Kompas edisi Senin (17/10), reaksi saya yang pertama adalah “Ooh, SBY udah mau 2 tahun toh.. Gak sadar ya?”
Maka, hari – hari setelahnya, kepala saya dipenuhi dengan berita – berita reshuffle menteri serta rencana aksi turun ke jalan oleh sebagian kelompok mahasiswa. Bosan juga sih, karena kadang saya merasa dibanding baca bagian Politik, mendingan baca bagian ekonomi atau olahraga. Yang konkrit2 gitu.
Banyak Teman dan kakak kelas saya, yang berbicara menggebu – gebu, mengenai Aksi, demo, perubahan atau semacamnya. Apalagi teman dan kakak kelas yang ada di PTN di Depok, wah, pasti lebih semangat dan aktif. Kata teman saya, “Kita kan trade-mark nya Kampus Perubahan.” Maka saya tidak heran kalau mereka cukup sering terlihat di TV
. Tapi,pada 20 Oktober kemarin,, KM ITB (sebutan untuk BEM di ITB) juga ikut menggelar aksi di depan gedung sate. Sesuatu yang cukup jarang dilakukan oleh mahasiswa ITB. Saya sendiri sampai sekarang tidak terlalu tertarik dengan aksi, demo dan semacamnya. Tetapi, pertanyaannya, sudah sebegitu parahkah persoalan pada pemerintahan kali ini, sampai – sampai KM ITB menggelar aksi? Read the rest of this entry
Mahasiswa, lalu Apa?
Sudah kurang lebih dua bulan, saya resmi menjadi seorang Mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Katanya, almamater saya yang baru ini adalah kampus unggulan. Bahkan, dosen – dosen dan kakak – kakak senior pasti berujar, “Dulu, mahasiswa baru ITB itu disambut dengan Spanduk ‘Selamat Datang Putra – Putri Terbaik Bangsa’”. Oke, saya no comment bagian ini. Karena beberapa orang kemudian memplesetkannya menjadi “Putra – Putri Terkaya” -___-“
Ada desas desus umum yang menyatakan “Mahasiswa baru di ITB itu biasanya mukanya masih cerah – cerah. Trus masih euforia. Atribut ITB, kaos ITB. Masih BANGGA karena berhasil lolos seleksi masuk ke ITB”.
Dan saya, tidak mempersalahkan statement di atas (yang saya rasa, benar untuk sebagian besar maba), sampai akhirnya Senin kemarin, saya mengalami kejadian yang memaksa saya untuk merenung.
Saya bertemu seorang International Student dari Libya, yang sedang ikut program Master di ITB. Ia kehilangan tas ranselnya ketika shalat di Mushola Perpustakaan. Kebetulan, beberapa menit sebelumnya, saya juga baru saja menyelesaikan shalat di situ. Akhirnya,saya menemani orang ini, (karena ia belum lancar bahasa Indonesia), menjadi translatornya, ke Pos Satpam dan saya antar pula ke fakultasnya, untuk mendapat bantuan mengenai tasnya tersebut, yang salah satu isinya adalah Paspor dan KITAS. Boleh dibilang respon dari Satpam dan fakultasnya kurang memuaskan.
Terus terang saja, selama menemani beliau ini, saya seperti menanggung malu, karena sedemikian parahnya moral si Pencuri (yang saya yakin orang Indonesia), sampai hati mengambil barang orang yang sedang menunaikan Shalat. Bukan itu saja, Pencurian ini terjadi di lingkungan kampus yang katanya “Unggulan” di Indonesia. Dan, menurut saya, perlakuan yang didapat beliau ini,sebagai International Student dari pihak kampus juga, kurang memuaskan.
Saya akhirnya sadar, Bangga itu gak berarti apa – apa. Ada banyak kekurangan juga kok dalam kampus yang dibanggakan itu.(Tetap Bangga sih, tapi rendah hati juga :p )
Saya pun bertanya – tanya, apa yang sekarang beliau pikirkan tentang Indonesia dan isinya…
Katanya, Mahasiswa itu “Agent of Change” , maka saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswa untuk merubah moral Pencuri – pencuri seperti di atas… Karena Mahasiswa bukan hanya status, tapi mengenai apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa
![]()
First Post After…?
Yap, sudah berapa bulan saya tidak nge-post? Sejak 28 Februari tepatnya. So, After almost 5 months, blog ini saya biarkan telantar beserta isinya.. Hiks… #apasih.. Apalagi sejak saya punya Tumblr, wah, mengisi wordpress ini ibarat pekerjaan Berat!
Rencananya dalam minggu – minggu ini, theme-nya akan diubah lagi, agar para pembaca tidak bosan, dan blog ini terasa lebih segar. Tentu, dengan semangat perubahan juga pada tulisan2nya menjadi lebih baik (Doakan yaa). Insya Allah, setelah bulan – bulan lalu yang menyibukkan dan melelahkan, sekarang saya bisa meluangkan waktu menulis dan mengatur Blog ini, sebagai Mahasiswa!
Salam!
![]()
Seleksi Itu Penting
Dewasa ini, arus globalisasi semakin berhembus kencang. Banyak pengamat yang menilai, tak akan ada manusia yang dapat menghindari pengaruh – pengaruh fenomena ini. Batas Negara semakin tidak jelas, bahkan stereotip seperti “kebudayaan timur yang lebih ‘strict’ dibandingkan kebudayaan di Barat” tampaknya semakin bias.
Begitu pun yang terjadi di Indonesia. Semenjak gelombang euforia ‘westernisasi’ tahun 70-an, yang kemudian kembali lagi terjadi pada era reformasi, ada satu hal yang selalu sama. Yaitu bahwa, yang pertama kali terpengaruh adalah generasi remaja/ anak muda.
Memang, generasi muda adalah generasi yang menurut banyak psikolog, suka mencoba hal – hal baru di luar yang sudah umum. Maka, saat mereka melihat sesuatu yang unik, tanpa pikir panjang, mereka mencoba mengikutinhya. Ini pula yang berlaku kepada budaya – budaya asing yang masuk, yang masih terasa baru bagi kita Bangsa Indonesia. Padahal, semuanya tentu memiliki 2 sisi mata uang yang berbeda, positif dan negatif.
Jika kita lihat, bukan hanya di kota – kota besar, sudah merupakan hal yang lazim jika wanita – wanita memakai rok di atas lutut, atau atasan yang sedikit memperlihatkan dadanya. Di kalangan laki – laki, bukan merupakan hal yang aneh saat mereka merayakan sesuatu dengan “minum-minum” di bar.
Apakah semuanya murni kesalahan dari generasi muda? Saya pikir tidak. Nilai – nilai kebebasan yang masuk telah membuat sebagian orang tua menganutnya dalam pendidikan keluarga. Mereka membebaskan anak – anaknya, yang seringkali terlalu bebas, karena tidak memberikan ‘framing’. Nilai – nilai agama yang dulu teguh ditanamkanpun, dirasa makin sulit, meski kini mulai hadir konsep pendidikan yang berintegrasi dengan agama.
Padahal, saya pikir, jika fundamental yang ditanamkan pada generasi muda kuat, maka mereka akan dengan lihai menyeleksi sendiri mana budaya – budaya asing positif yang boleh kita serap. Dengan demikian, dapat disimpulkan semuanya kembali kepada diperlukannya suatu kepedulia orang tua terhadap anaknya. Ditambah dengan pemberian proses pendidikan yang baik.
![]()
Penerimaan Siswa Baru MAN Insan Cendekia Tahun Ajaran 2011/2012
Untuk Informasi PSB MAN Insan Cendekia tahun ajaran 2011/2012, silahkan KLIK DI SINI …
Berhubung kesibukan saya sebagai kelas 3, dan internet yang terbatas.. Untuk sementara , langsung ke situs resminya ya! Mohon maaf sebelumnya, kalau kurang bisa melayani pertanyaan – pertanyaan yang masuk.
![]()
PTN (2)
Melanjutkan tulisan saya di PTN (1), yang mengutip keluhan seorang teman saya. Biaya kuliah di salah satu PTN yang berkisar 100 jt selama empat tahun dan ia berpendapat kalau itu terlalu mahal. Memang, mungkin mahal itu relatif ya, karena jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, disana biaya perguruan tinggi berkisar 250 jt ke atas untuk 4 tahun masa studi.
Nah, argumentasi saya begini. Itu kan Singapura, yang pendapatan per kapitanya berkisar US$42,000 lebih. Sedangkan Indonesia, dengan biaya 100 juta saja, rasionya dengan pendapatan per kapita sudah mencapai 3 – 4x. Apa artinya? Artinya, kesenjangan pendapatan dalam mengakses pendidikan tinggi akan semakin besar. Masyarakat dengan pendapatan rata-rata saja akan sulit membiayai pendidikannya. Apalagi, pendapatan per kapita itu kan, pendapatan per tahun. Berarti, kalau studi 4 tahun, dan tanpa subsidi, seseorang dengan pendapatan rata-rata akan menghabiskan seluruh pendapatannya selama 4 tahun hanya untuk membiayai pendidikan tingginya.
Jika kita membandingkan dengan Malaysia, untuk biaya mahasiswa internasional misalnya, universitas negeri di Malaysia menawarkan program Undergraduate (Bachelor) hanya dengan biaya berkisar 70 – 100 juta (4 tahun masa studi). Tentu, untuk kalangan bumiputera mereka sendiri, biaya ini jauh lebih murah. Kalau dibagi dengan rasio biaya pendidikan/pendapatan per kapita, rasio Malaysia hanya sekitar 1-1,5x ,itu pun dengan patokan biaya mahasiswa internasional.
Untuk memperkuat argumentasi saya, berikut saya lampirkan beberapa data dan rasio biaya pendidikan di sejumlah negara.
| Negara | Biaya seluruh studi (US$) | Pendapatan per Kapita (US$) | Rasio Biaya Studi/Pendapatan per Kapita |
| Indonesia | 9,074 | 2,858 | 3,2 |
| Malaysia | 6,000 – 10,000 | 7,546 | 0,8 – 1,3 |
| Singapura | 22,400 – 35,266 | 42,653 | 0,5 – 0,8 |
| Amerika Serikat | 100,000 – 150,000 | 46,381 | 2,2 – 3,2 |
| Inggris | 15,000 – 20,000 | 35,720 | 0.4 – 0.6 |
| Jepang | 32,000 – 35,000 | 42,325 | 0.7 – 0.9 |
Bisa kita lihat pada tabel diatas, rasio Indonesia termasuk paling tinggi dan hanya dapat dibandingkan dengan AS. Itupun hanya menyamai pada batas atasnya. Sedangkan negara lain rata – rata memiliki rasio sekitar 1, bahkan Inggris hanya sekitar 0,4 – 0,6.
Hmm, jadi kira – kira begitu hasil analisis yang saya lakukan. Saya tidak tahu, ketimpangan tersebut apakah disebabkan oleh biaya pendidikannya yang memang mahal, atau pendapatan per kapita Indonesia yang terlalu kecil. Meski Begitu, saya percaya bahwa pemerintah kita, melalui elemen-elemennya seperti Kemendiknas, sudah memiliki berbagai program dalam menangani persoalan biaya, yang mungkin dihadapi masyarakat dalam mengakses Pendidikan Tinggi di Universitas. Sejumlah program itu, diantaranya beasiswa BIDIK MISI, juga beasiswa-beasiswa yang digulirkan di PTN masing-masing (ITB untuk semua, dll.) harus terus kita dukung dan awasi bersama. Sehingga pelaksanaannya akan semakin baik dan menjangkau semakin banyak masyarakat
Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi, bahwa Biaya merupakan salah satu pertimbangan yang krusial dalam memilih Pendidikan Tinggi, yang sangat terkait dengan masa depan seseorang, keluarga bahkan Bangsa dan Negara.
Oke, saya pikir cukup untuk kali ini, sampai jumpa di posting berikutnya!
![]()


