Monthly Archives: October 2011

Ooh, Sudah 2 Tahun toh?

Jujur saja, setelah lulus dari Insan Cendekia, saya agak jarang membeli dan membaca koran. Saya yang biasanya mendapat suguhan 4 koran nasional setiap hari seperti Kompas dan Bisnis Indonesia, tiba – tiba menjadi buta akan hal – hal terbaru yang ada di masyarakat. Maka, saat saya membeli koran Kompas edisi Senin (17/10), reaksi saya yang pertama adalah “Ooh, SBY udah mau 2 tahun toh.. Gak sadar ya?”

Maka, hari  – hari setelahnya, kepala saya dipenuhi dengan berita – berita reshuffle menteri serta rencana aksi turun ke jalan oleh sebagian kelompok mahasiswa. Bosan juga sih, karena kadang saya merasa dibanding baca bagian Politik, mendingan baca bagian ekonomi atau olahraga. Yang konkrit2 gitu.

Banyak Teman dan kakak kelas saya, yang berbicara menggebu – gebu, mengenai Aksi, demo, perubahan atau semacamnya. Apalagi teman dan kakak kelas yang ada di PTN di Depok, wah, pasti lebih semangat dan aktif. Kata teman saya, “Kita kan trade-mark nya Kampus Perubahan.” Maka saya tidak heran kalau mereka cukup sering terlihat di TV :) . Tapi,pada 20 Oktober kemarin,, KM ITB (sebutan untuk BEM di ITB) juga ikut menggelar aksi di depan gedung sate. Sesuatu yang cukup jarang dilakukan oleh mahasiswa ITB. Saya sendiri sampai sekarang tidak terlalu tertarik dengan aksi, demo dan semacamnya. Tetapi, pertanyaannya, sudah sebegitu parahkah persoalan pada pemerintahan kali ini, sampai – sampai KM ITB menggelar aksi? Read the rest of this entry

Mahasiswa, lalu Apa?

Sudah kurang lebih dua bulan, saya resmi menjadi seorang Mahasiswa di Institut Teknologi Bandung. Katanya, almamater saya yang baru ini adalah kampus unggulan. Bahkan, dosen – dosen dan kakak – kakak senior pasti berujar, “Dulu, mahasiswa baru ITB itu disambut dengan Spanduk ‘Selamat Datang Putra – Putri Terbaik Bangsa’”. Oke, saya no comment bagian ini. Karena beberapa orang kemudian memplesetkannya menjadi “Putra – Putri Terkaya” -___-“

Ada desas desus umum yang menyatakan “Mahasiswa baru di ITB itu biasanya mukanya masih cerah – cerah. Trus masih euforia. Atribut ITB, kaos ITB. Masih BANGGA karena berhasil lolos seleksi masuk ke ITB”.

Dan saya, tidak mempersalahkan statement di atas (yang saya rasa, benar untuk sebagian besar maba), sampai akhirnya Senin kemarin, saya mengalami kejadian yang memaksa saya untuk merenung.

Saya bertemu seorang International Student dari Libya, yang sedang ikut program Master di ITB. Ia kehilangan tas ranselnya ketika shalat di Mushola Perpustakaan. Kebetulan, beberapa menit sebelumnya, saya juga baru saja menyelesaikan shalat di situ. Akhirnya,saya menemani orang ini, (karena ia belum lancar bahasa Indonesia), menjadi translatornya, ke Pos Satpam dan saya antar pula ke fakultasnya, untuk mendapat bantuan mengenai tasnya tersebut, yang salah satu isinya adalah Paspor dan KITAS. Boleh dibilang respon dari Satpam dan fakultasnya kurang memuaskan.

Terus terang saja, selama menemani beliau ini, saya seperti menanggung malu, karena sedemikian parahnya moral si Pencuri (yang saya yakin orang Indonesia), sampai hati mengambil barang orang yang sedang menunaikan Shalat. Bukan itu saja, Pencurian ini terjadi di lingkungan kampus yang katanya “Unggulan” di Indonesia. Dan, menurut saya, perlakuan yang didapat beliau ini,sebagai International Student dari pihak kampus juga, kurang memuaskan.

Saya akhirnya sadar, Bangga itu gak berarti apa – apa. Ada banyak kekurangan juga kok dalam kampus yang dibanggakan itu.(Tetap Bangga sih, tapi rendah hati juga :p )

Saya pun bertanya – tanya, apa yang sekarang beliau pikirkan tentang Indonesia dan isinya…

Katanya, Mahasiswa itu “Agent of Change” ,  maka saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswa untuk merubah moral Pencuri – pencuri seperti di atas… Karena Mahasiswa bukan hanya status, tapi mengenai apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 212 other followers